Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Kesunyian Kembali Bersemi (Puisi)

Selasa, 19 Februari 2013, 06:00 WIB
Komentar : 0

Kesunyian

Aku terjaga di atas bangku kesunyian,
langit telah menggelap kehitaman,
semakin deras turunnya hujan,
disiniku tanpa lentera penerangan,
sunyi tanpa kegaduhan.

Aku berjalan membuka daun jendela,
kudapati kupu-kupu yang alpa,
matahari berselimut  mendung gelita,
hawa dingin kembali menjalar raga.

Aku keluar ke pelataran,
jalanan basah..hawa dingin menusuk badan,
sepi tak mengusik kelam kesunyian,
basah rerumputan bermandikan badai hujan.

Angin bernafas menyuarakan kemesraan dedaunan,
bergesekan di kesunyian.
aku manusia di tengah kesunyian,
tak ada Tuhan.
Tak ada Tuhan?

Petir halilintar menggertak urat gala,
aku terhentak dan kusadari Dia ada disana.
sedekat urat gala.

Aku berlari dalam dunia kesunyian,
ditemani hujan dan angin berdesiran,
manusia telah jauh tinggalkan hunian,
sahabatku karibku sudah di negeri eksodus.

Sang bengawan meninggi lewati batas,
aku menangis meronta menggila,
mengacung acungkan jari,
menebas rintik hujan dan angin di dunia kesunyian.

Aku berlari jauh ikuti batang air,
desir angin menggiringku ke bibir samudra,
dan kucumbu ia dalam susah kerinduan,
aku dibalasnya dengan sapuan ombak,
ombak meninggi dan aku tenggelam dalam samudra kesunyian,
tak ada daratan dan kini aku diam.
kupasrahkan pada Tuhan.

Kembali Bersemi

Aku membungkuk di samping seniman,
ia buatkan keramik menawan,
segumpal lempung dipukul, diputar, dibakar, didinginkan,
hinggalah elok keestetisan.

Kuberlari bersama angin bumi,
ia tak lelah berkelana disini,
membawa warna-warni  dedaunan di penjuru negeri,
hingga musim yang slalu berganti,
menebar rezeki burung kecil yang tak lelah hati.
musim semi kan tiba hijaukan alam ini.

Kujelajahi planet-planet di galaksi,
tak henti berthawaf berkeliling matahari.
membagi adil sinarnya di permukaan bumi,
menjagal meteor yang menghantam.
bershaf rapi di garis lintasan.

Tuhan.
Bersama-Mu kembali.,
kan kulihat hijau rumput di musim semi,
Bila malam rembulan bersinar terang,
dan bintang berkedip riang,
Kalam-Mu kembali mengikat dawai sanubari yang merenggang,

Tuhanku.
aku berdzikir dengan asma-Mu,
semu dunia tak lagi menipu,
Samudra kesunyian tak lagi telantarkanku,
cintaku bersemi bersama-Mu,


Anggi Setyawan
Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

Redaktur : Nidia Zuraya
2.479 reads
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...