Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Puisi Cinta Sejati

Rabu, 13 Februari 2013, 06:00 WIB
Komentar : 0
anneahira.com

Cinta

Cinta..Cinta..Cinta.
Aku sampai di Februari.
Orang bilang ini bulan cinta,
bulan penuh cinta,
penuh warna merah muda.
Semuda darah muda-darahnya remaja.

Cinta..Cinta..Cinta.
ku tak tahu apa itu cinta?
Yang kutahu cinta itu saling berbagi.
Cinta sejati tak mengenal hari,
tak mendzolimi diri.
Cinta sejati tak zinakan diri,
tak bernafas syahwat hewani.

Cinta haqiqi ianya cinta pada Illahi,
taqwa dan mengabdi sepenuh arti,
setulus sanubari.
Sampai tiba masa Izrail kan jemput diri.



Rindu Tuhan

Tuhan,
Engkau Yang Maha Tahu akan kerinduan hati hamba,
ketika hati membeku di kegelapan,
kau masih pancarkan sinar alam warnai kehidupan.
Dengan nama-Mu kupetik hikmah dalam penderitaan,
kugenggam waspada dalam nikmat yang ada,
mengingat-Mu kurasakan bahagia tak terkira.

Tuhan,
Kesempurnaan cinta-Mu yang kuharapkan,
kupersembahkan segala tak kesempurnaan,
dalam nalarku yang penuh ketidakpastian.
Aku mengakui-Mu demi sel darah yang berlarian dalam tubuh,
demi bintang-bintang yang bersinar berarakan dengan arahan-Mu,
demi malam-malam gulita di ujung dunia.
Syarafku terlampau kecil tuk tangkap segala keagungan-Mu.
Kubebaskanmu pergi, namun hadir-Mu menggertak urat di leher.

Aku masih merasakan-Mu dalam hiruk pikuk dunia.
Kusadari keberadaan-Mu dalam ketiadaan-Mu,
kulantunkan lagu sumbangku dari kalimat indah Kalam-Mu.
Berharap pada-Mu Yang Maha Mendengar, Maha Kekal Yang Tak Pernah Tidur.

Seringku langgar aturan-Mu dan tinggalkan perintah-Mu,
seringku merusak alam indah-Mu dan tak amanah jalankan tugasku.

Nalarku kembali menjamah setiap sudut Kemahaan-Mu,
Akankah kuberjumpa dengan-Mu?
Akankah kukembali dalam fitrah sejati?

Kuingin melihat-Mu seperti Engkau melihatku.
Kuingin mendengar-Mu seperti engkau mendengarku.
Kusebut nama-Mu mengingat nama-Mu,
sembari kuhitung sisa-sisa usiaku.


Anggi Setyawan
Mahasiswa Fakultas Teknik - Unipdu Jombang

Redaktur : Nidia Zuraya
2.626 reads
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...