Senin, 11 Februari 2013, 07:00 WIB

Puisi Sebuah Penyesalan

Red: Nidia Zuraya
lifehacker.com

Putus


Putus..!
Semua tlah hancur,
bak baja-baja yang terbakar memar dan melebur.
Semua telah sirna,
lalu harusku kemana?

Kini,
tak lagi kulihat sampulmu yang menawan,
tidur manja di rak-rak perpustakaan.
Kini tak lagi kudengar suara penebar pengetahuan,
apakah uang satu-satunya tebusan?
Terkapar aku dalam perjuangan.

Putus sekolah,
andai waktu kan mengubah.
tak hendak keluhku mengesah,
tak hendak dudukku berpasrah.

Tuhanku Yang Maha Loman.
Tunjukkan hamba jalan,
tuk kembali menapak masa depan,
masa depan yang Kau tlah gariskan.

Teman,
teruskan perjuangan,
belajarlah tuk sebuah kemenangan,
tika nanti datang kemuliaan,
peluklah ia yang butuhkan.



Candu-candu Setan


Ketika hatimu senang berkata,
"Diriku ini lebih mulia"
"Diriku ini lebih berharta"
"Diriku ini lebih berilmu dan bertaqwa"

sungguh kawan,
Setan juga ucap yang kau ucapkan,
pada peristiwa awal penciptaan,
ia merasa lebih mulia dari insan.

Siasatnya bak reaksi kimia.
Materimu kan bereaksi dengan materinya.
ia kan ciptakan materi baru,
candu kemaksiatan.

Kau akan dapati dirimu yang mudah terkorosif.
Dia akan menyulut pematik, membakar, dan meledakkan materi-materi kemaksiatan.

Pelan-pelan dan perlahan,
kau kan sadari kemudian.
Kau terlarut dalam candu kenikmatan setan.
Kau dapati dirimu mulai tinggalkan satu persatu kewajiban.
Kau dapati hatimu terbalut kegelapan.

Penyesalan.
Tinggal penyesalan.
Kala Izrail jemput di hadapan,
tiada lagi kau dapat kesempatan.
Penyesalanmu terbayar dalam bait syair batu nisan.


Anggi Setyawan
Mahasiswa Semester 2, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang