Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Puisi Malam dan Pesona Karya-Nya

Rabu, 16 Januari 2013, 18:21 WIB
Komentar : 1
funfurl.com
Langit malam (ilustrasi).

Malam


Duhai malam tersenyumlah,

Tidakkah kau lihat sang rembulan merekah merah,

Dan bintang berkilauan, indahkan jagad raya.


Duhai malam tertawalah,

Tidakkah kau tahu esok fajar akan datang,

Bawa bahagiamu yang kau mimpikan,

Hingga terwujudlah segala harapan.


Duhai malam berbaringlah,

Ragamu lelah menanti pagi yang tak juga pergi,

Dan kalbumu mengembang saat senja datang.


Duhai malam dengarkanlah,

Burung-burung bernyanyi dalam perjalanan pulang,

Hingga tak ada alasan dikau akan kesepian.


Duhai malam bermimpilah,

Disela-sela jagamu ada tangan-tangan suci yang meminta pada Sang Ilahi,

Agar kau tetap kuat menemani indahnya bumi pertiwi,

Hingga waktu akan berhenti.



Pesona Karya-Nya


Kupandang biru di depan mataku,

Luas membentang,

Sesekali kulihat si putih datang menerawang,

Dihempas aku dalam rona kasih Tuhan,

Oh, bahagianya.


Kupandang biru dalam diam,

Dan hijau terbentang saling berdendang,

Keduanya menari saling mengiringi,

Bagai asa yang akan selalu ada di ujung kepenatan hati.


Aku ingin tinggal di tempat seperti ini,

Ditemani rona-rona yang indah,

Merasakan kesejukan cinta-Nya,

Melukiskan sejuta asa tanpa air mata.


Dan jiwaku ingin hidup disini,

Seratus tahun lagi,

Memandang si biru dan si hijau yang luasnya tak tertandingi,

Ditemani Sang Fajar, rembulan, bintang, dan dekapan hangat Tuhan yang membuatku seolah berada dalam Surgawi.



Harapan Tengah Malam


Aku ingin menyatu dengan malam,

Mengizinkan dingin menusuk hingga ke tulang,

Merasakan sejuk sisa tetesan hujan di tengah kemarau,

Terlebih jika langit meneteskannya kembali,

Membasahi raga ini,

Meredam jerit hati,

Dan membuat bulir air mata ini luruh bersamanya,

Hingga ragaku melemah, lelah,

Terjatuh, tersungkur, dan tertidur di tengah gemuruh dalam sukma,

Berbalut dekapan hangat Tuhan yang mengantarku dalam keteduhan,

Hingga esok, tubuhku telah menjelma jadi embun pagi

Yang menetes indah seolah tak ada lagi duri menghiasi setiap cerita hidup ini.



Rahasia Puisi


Begitulah puisi,

Penuh teka-teki,

Bagai menggali kubur dalam lautan tak bertepi,

Tak ada yang tahu kemana akan terhenti,

Biar penyair dan Rabb-nya yang memberi arti.



Nor Aini Rachmawati (Nuni Rachmawati)

Akun Facebook/Twitter : Nuni Rachmawati/@NuniNii

Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga Surabaya

Redaktur : Miftahul Falah
10.619 reads
Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  Norma Yuliani Sabtu, 19 Januari 2013, 10:15
Like this..
puisinya keren.. :-)
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...