Kamis , 19 October 2017, 02:15 WIB

Melihat Teknologi Peternakan di Eropa

Red: Dwi Murdaningsih
dokpri
Akhir Pebriansyah, Mahasiswa doktoral Czech University of Life Sciences Prague Kamýcká (kanan) bersama Professor Antonio Borghese (kiri), seorang ilmuwan ahli ternak di Italia.
Akhir Pebriansyah, Mahasiswa doktoral Czech University of Life Sciences Prague Kamýcká (kanan) bersama Professor Antonio Borghese (kiri), seorang ilmuwan ahli ternak di Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Akhir Pebriansyah, Mahasiswa doktoral Czech University of Life Sciences Prague Kamýcká, alumni Institut Pertanian Bogor

Indonesia adalah negara agraris. Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah baik di daratan maupun di lautan. Posisi Indonesia juga sangat strategis di antara dua benua Asia dan Australia serta berada di lintang garis khatulistiwa sehingga memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi.

Ini merupakan angin segar untuk mengembangkan pertanian dan peternakan di Indonesia. Kekayaan alam Indonesia juga sangat melimpah di perairan dan lautan Indonesia. Berbagai jenis ikan, hewan laut, dan sumber daya alam mineral maupun minyak bumi dan gas alam dapat di jumpai di Indonesia.

Melihat potensi akan kekayaan sumber daya alam Indonesia dalam bidang pertanian maupun potensi peternakan yang sangat baik, sudah barang tentu orang atau masyarakat asing akan menebak negara Indonesia adalah negara yang makmur dan sejahtera.

Bisa dipastikan peternakan akan berkembang biak dengan baik karena iklim Indonesia yang tropis dan stabil sepanjang tahun. Segala jenis pakan dari hijauan rumput juga mudah di dapatkan sepanjang tahun untuk pakan ternak tanpa harus bersusah payah mencari bahkan membeli ke pabrik-pabrik pakan ternak. Namun, kita menyadari bahwa segala potensi itu kini masih belum maksimal diberdayakan oleh seluruh stakehoder di Indonesia.

Sayangnya, Indonesia masih belum fokus kepada sektor pertanian dan peternakan dan masih belum menggunakan teknologi tepat guna dalam industri pertanian dan peternakan. Dengan kondisi yang begini, bisa ditebak hasil pertanian dan peternakan Indonesia tidak maksimal, harga yang mahal, kualitas yang tidak terlalu bagus bahkan sampai mengimpor dari negara asing untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Menempuh studi di Eropa membuat saya mempelajari berbagai teknologi tepat guna dan mutakhir dalam bidang pertanian dan peternakan di negara-negara Eropa. Bagi saya mendalami ilmu pertanian di Eropa membuat saya sadar bahwa potensi pertanian dan peternakan di Indonesia jauh lebih kaya dibandingkan di Eropa.

Betapa tidak, Eropa memiliki suhu dan iklim yang berubah-ubah dan sangat ekstrim sepanjang tahun, kualitas tanah di Eropa juga berbeda dengan di Indonesia. Melihat kondisi tersebut orang Eropa berpikir agar lebih kreatif mengelola sumber daya alam mereka dari industri pertanian dan peternakannya. Segala macam teknologi yang baik digunakan untuk memberikan hasil yang maksimal dalam sektor pertanian dan peternakan, karena mereka yakin tanpa pertanian dan peternakan manusia akan punah, karena kita tiap hari butuh makan.

Italia adalah salah satu negara di Eropa yang menghasilkan banyak produksi pertanian dan peternakan. Penduduk Italia yang berjumlah sekitar 60 juta orang tersebut (data tahun 2017) mengatakan bahwa Italia telah mencukupi kebutuhan akan pangannya baik dari sektor pertanian dan peternakan.

Bicara mengenai Italia memang negara ini unik karena memilki suhu yang lebih hangat dibanding negara-negara di Eropa lainnya. Suhu berkisar 10-15 derajat celsius di musim dingin dan 25-35 derajat celcius di musim panas.

Menurut sensus pertanian Italia tahun 2010 ada sekitar 1,6 juta lahan pertanian di Italia yang mencakup 12,7 juta hektare lahan dimana sekitar 63-65 persen nya berada di selatan Italia. Pertanian gandum sekitar 31 persen, pertanian zaitun sekitar 10-11 persen, pertanian lain seperti anggur dan buah-buahan sekitar 7-10 persen. 

Sedangkan pada sayur-sayuran Italia memproduksi sekitar 8-10 persen. Tidak hanya itu Italia juga memproduksi bahan pakan asal gandung sekitar 15 persen, dan hijauan untuk pakan ternak sekitar-25-26 persen.

Sektor peternakan menjadi sektor yang cukup di perhatikan oleh negara Italia. Saya berkesempatan untuk datang ke salah satu peternakan kerbau pemerintah yang mana memproduksi susu, keju, dan mozarela. Peternakan milik pemerintah ini di jadikan pusat penelitian ternak khususnya kerbau yang berlokasi di Monterontodo, Italia.

Tempat ini kerap kali dijadian tempat pelatihan untuk para peternak dan penelitian untuk civitas akademika, tidak hanya itu Monterontodo juga sering dijadikan tempat konferensi internasional khusus dalam bidang peternakan kerbau.

Bagi saya, melihat dan belajar langsung proses demi proses pembuatan keju dan mozarela dari susu kerbau sungguh sangat mengasyikan. Professor Antonio Borghese, seorang ilmuwan ahli ternak kerbau menerangkan kepada saya bagaimana pentingnya potensi dari peternakan kerbau ini. Borghese juga merupakan ketua ikatan ternak kerbau internasional, telah menulis puluhan jurnal dan artikel internasional dan memiliki 4 buku yang semuanya di tuilis dalam bahasa Inggris dan Italia.

Menurut Borghese, peternakan kerbau bisa dibilang mudah dalam mengurusnya. Sebab, ternak kerbau tidak memerlukan penanganan yang intensif. Pakan untuk ternak kerbau juga tergolong mudah alias tidak memerlukan pakan yang mahal karena ternak kerbau dapat diberikan pakan rumput dengan kualitas yang rendah misalnya rumput alang-alang maupun limbah hasil rumah tangga berupa makanan sisa. Tidak hanya itu ternak kerbau juga dapat tahan hidup di iklim tropis seperti Indonesia dan tidak berpengaruh terhadap kualiatas daging dan susunya.

Peternakan kerbau yang bisa di bilang mudah mengurusnya tapi sarat akan keuntungan ekonomis dan saya kemudian berpikir dan merasa bahwa Indonesia pun bisa melakukannya. Sebab, Indonesia memiliki potensi peternakan kerbau, tentu diperlukan kerja keras dari semua stakeholder baik dari pihak para peneliti, peternak, dan pemerintah untuk bekerja sama membangun peternakan kerbau di Indonesia dan menerapkan eknologi tepat guna, hingga kemudian, rakyat Indonesia dapat menjangkau tidak hanya daging kerbau saja, tetapi prodak turunan lainnya seperti susu, keju dan mozarela.