Rabu , 14 June 2017, 15:25 WIB

Merajut Ukhuwah yang Terkoyak

Red: Hazliansyah .
Republika/ Yasin Habibi
Menjaga Ukhuwah
Menjaga Ukhuwah

REPUBLIKA.CO.ID, -- Sebelum Ramadhan, ukhuwah umat Islam seakan rusak terkoyak, terutama sebelum dan setelah Pilkada DKI Jakarta. Hal itu karena persaingan dua paslon yang sama-sama memiliki pendukung dari golongan umat Islam. Di tengah persaingan ini muncul kembali istilah Islam radikal versus moderat, yang seharusnya diwaspadai umat Islam sebagai upaya adu domba umat.

Upaya adu domba pihak luar untuk memecah belah persatuan umat Islam harus kita waspadai dan benar adanya. Salah satu bukti yaitu adanya laporan dari Rand Corporation, sebuah pusat penelitian dan kajian strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS).

Rand Corp membagi umat Islam menjadi empat kelompok, yaitu kelompok fundamentalis, kelompok tradisionalis, kelompok modernis dan kelompok sekularis.

Lembaga ini juga menyampaikan bagaimana caranya untuk menghadapi setiap kelompok ini. Musuh-musuh Islam melakukan politik belah bambu mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Kita harus merekatkan kembali ukhuwah karena umat Islam haram saling bermusuhan karena permusuhan bisa menjadi penghalang kita untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Kita sangat mengharapkan ampunan-Nya, khususnya pada bulan yang penuh berkah ini.

Kaum Muslim bersaudara. Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor nasab.

Persaudaraan Muslim yang hakiki seperti satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam. Sesama Muslim haram saling mencela, menyakiti, apalagi membunuh, haram pula saling menzalimi dan saling tidak peduli.

Mereka wajib untuk saling membantu dan tolong-menolong dengan saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya.

Iin Karlina
Kebayoran, Jakarta Selatan