Kamis , 21 September 2017, 00:05 WIB

PSSI dan Sekulerisme Sepak Bola

Red: Agus Yulianto
dok pribadi
Rifka Syamsiatul Hasanah
Rifka Syamsiatul Hasanah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Rifka Syamsiatul Hasanah *)

Aksi pembantaian yang dilakukan oleh kaum Budhist Myanmar terhadap kaum Muslim Rohingya di Rakhine kini kembali terjadi. Derita berkepanjangan kaum Muslim Rohingya hingga saat ini tidak menemui titik terang apakah akan berakhir. Hal ini menuai simpati banyak orang, khususnya masyarakat Indonesia dan umumnya masyarakat dunia. Berbondong-bondong masyarakat dari berbagai kelompok atau aliansi di Indonesia melakukan aksi simpatik #SaveRohingya.

Salah satunya adalah aksi simpatik #SaveRohingya yang dilakukan oleh Bobotoh Persib hingga akhirnya berujung pada sanksi sebesar Rp 30 juta, dari pihak Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Pasalnya, aksi koreografi kemanusiaan bertuliskan 'Save Rohingya' pada laga Persib kontra Semen Padang, di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/9) lalu dianggap sebagai pelanggaran oleh pihak PSSI. PSSI menilai, Bobotoh Persib melakukan pelanggaran karena menyampaikan pesan-pesan yang tidak ada kaitannya dengan PSSI.

Save Rohingya bentuk kepedulian terhadap saudara seakidah

Apa yang telah dilakukan Bobotoh Persib patut diapresiasi. Mereka dengan kreatif membuat koreografi untuk menyampaikan pesan bahwa kini Muslim Rohingya yang tak berdosa tengah dibantai, dan mereka membutuhkan pertolongan dari saudaranya di berbagai belahan dunia. Jika koreografi yang mereka lakukan atas landasan kemanusiaan, maka itu adalah bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Jika yang mereka lakukan atas landasan aqidah, maka itu bentuk kepedulian serta kasih sayang terhadap sesama Muslim, saudara seakidah. Dan itu merupakan landasan terbaik yang ada di dunia, landasan yang kokoh yang mampu menyatukan perasaan kaum Muslim seluruh dunia.

Rasulullah Saw bersabda :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Maka, tidak heran jika akhirnya apa yang terjadi pada kaum Muslim Rohingya menuai banyak protes, khususnya dari kaum Muslim. Ini membuktikan bahwa kini syu'ur ummat Islam terhadap Islam dan kaum Muslim itu sendiri sudah bangkit kembali, dan ini patut kita syukuri.

Tindakan PSSI bentuk sekulerisme dalam dunia sepakbola

Terkait dikenakannya sanksi kepada Boboroh Persib, PSSI melalui Direktur Media, Gatot Widakdo angkat bicara. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Komdis sudah sesuai dengan aturan. Gatot mengatakan, PSSI sangat menghormati aksi soladaritas untuk Rohingnya yang digalang Bobotoh. Namun, Gatot meminta, aksi tersebut tidak dikaitkan dengan sepak bola.

”Kami menghargai dan menghormati solidaritas untuk saudara kita di Rohingya. Namun, sepak bola tidak boleh dicampuri dengan masalah lain di luar nilai-nilai olahraga,” ujar Gatot.

Menurut Gatot, aksi yang dilakukan Bobotoh itu adalah hal tabu dalam sepak bola. Sebab, FIFA melarang berbagai aksi atau pesan yang tidak berkaitan dengan olahraga si kulit bundar. Gatot mencontohkan saat suporter Celtic FC didenda akibat mengibarkan bendera Palestina dalam pertandingan Kualifikasi Liga Champions melawan tim Israel, Hapoel Beer-Sheva pada 18 Agustus 2016.

”Badan Sepak Bola Tertinggi Eropa (UEFA) menjatuhkan denda sebesar 10.000 euro (sekitar Rp 145 juta) kepada Celtic FC. Ini karena tindakan suporter mereka mengibarkan bendera Palestina dalam pertandingan Kualifikasi Liga Champions melawan tim Israel, Hapoel Beer-Sheva, pada 18 Agustus 2016,” ucap Gatot.

Sungguh, tindakan sanksi yang dilakukan PSSI terhadap Persib dengan alasan bahwa sepak bola tidak boleh dicampuri dengan masalah lain di luar nilai-nilai olahraga adalah bentuk sekulerisme dalam dunia sepak bola. Bagaimana tidak, tatkala para suporter bola menyuarakan sesuatu yang berbau agama, dalam hal ini agama Islam, PSSI langsung bertindak tegas.

Ini bukan kali pertama PSSI memberi sanksi terhadap para supertor bola. Sebelumnya, Sriwijaya FC juga dijatuhi sanksi oleh PSSI dengan denda sebesar Rp 30 juta lantaran aksi supporter mendukung Palestina dengan koreo bendera Merah Putih dan bendera Palestina saat pertandingan melawan Persipura Jayapura, Ahad 30 Juli 2017 lalu di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.

Hal yang sama menimpa Persela Lamongan yang dijatuhi sanksi oleh PSSI dengan denda Rp 22,5 juta. Saat menjamu Barito Putera, Jumat, 28 Juli 2017, suporter Persela membentangkan spanduk “Save Al-Aqsa” yang dinilai oleh PSSI bermotif politik. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh UEFA kepada Celtic FC yang mengibarkan bendera Palestina, dimana Palestina merupakan negeri kaum Muslim yang terjajah oleh kaum Yahudi.

Berbeda perlakuan terhadap Save Paris dan Save London yang kedua negara tersebut bukanlah negara Islam. Liga dunia justru melakukan seremonial resmi sebelum pertandingan "minute of silent" (mengheningkan cipta) untuk korban Paris, London, dan lain lain (baca: bukan Islam).

Hal ini menjadi bukti kuat bahwa sekulerisme sudah mengakar kuat dalam kehidupan, bercokol pada setiap aspek kehidupan, salah satunya dalam dunia sepak bola.

Wahai kaum Muslim campakkanlah sekulerisme!

Sungguh sekulerisme telah menimbulkan ketidakadilan kepada pihak tertentu, khususnya kepada Islam yang merupakan musuh dari ibu yang sudah melahirkan paham sekulerisme (baca : kaum barat). Hal ini meyakinkan kita sebagai kaum Muslim bahwa tak mungkin Islam dapat berdampingan dengan sekulerisme yang memang tidak akan pernah berpihak kepada Islam dan kaum Muslim. Terlebih lagi Allah telah memerintahkan kita sebagai kaum Muslim yang beriman untuk berislam secara kaffah.

Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآفَّةً ۖ  وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ؕ  اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: Ayat 208)

Oleh karena itu, saatnya kita mencampakkan sekulerisme, lalu kita ganti dengan aqidah dan syariah Islam. Dengan itulah keadilan bisa ditegakkan, serta saudara seaqidah yang sedang mengalami tindakan kedzaliman pun bisa segera dibebaskan.

Wallahu'alam bishshawab


*) Mahasiswi tinggal di Kota Cimahi, Jabar