Ahad , 11 Desember 2016, 08:15 WIB

AAOIFI Keluarkan Standar Syariah Investasi Emas

Red: M Akbar
istimewa
Murniati Mukhlisin
Murniati Mukhlisin

REPUBLIKA.CO.ID, KENT -- Dalam kuliah umum di Canterbury Christ Church University, Jumat 19 Desember 2016, Murniati Mukhlisin mengemukakan adanya aturan syariah baru untuk investasi emas yang dapat diperdagangkan di papan bursa dunia.

Kuliah umum yang berjudul "Contemporary Issues in Islamic Finance and Accounting" itu diadakan pertama kali di kampus yang terletak di kota Canterbury, Kent, Inggris.

Kampus yang berusia 50 tahun itu dikenal sebagai kampus misionaris yang di awal pendiriannya bertujuan untuk melahirkan guru-guru gereja. Bersamaan dengan perjalanan waktu, kampus Cantebury membuka bidang disiplin lainnya termasuk jurusan bisnis.

Kota Canterbury terkenal sebagai kota turis bersejarah dengan adanya tiga lokasi yang termasuk di dalam Situs Warisan Dunia UNESCO yaitu Katedral Canterbury, Biara St Augustine, dan Gereja St Martin. Bahkan Katedral Caterbury yang didirikan sekitar abad ke-10 itu merupakan katedral dari Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Inggris dan simbol pimpinan dunia untuk komunitas Anglikan.

Dalam paparannya, Murniati mengatakan bahwa AAOIFI telah mengeluarkan Standar Syariah No. 57 tentang investasi Emas dan Pengawasan Perdagangan pada tanggal 19 November 2016 yang lalu. Standar yang juga berlaku untuk perak tersebut digodok bersama-sama dengan World Gold Council yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan dalam bentuk investasi ratusan ton emas.

Dalam standar syariah, komoditas emas dan perak ini harus sesuai dengan jumlah fisiknya dan settlement harus diselesaikan dalam hari yang sama, demikian ujar Murniati, dosen STEI Tazkia yang sedang bertugas di University of Essex, Inggris.

Di sisi lain, Murniati juga menjelaskan perkembangan keuangan syariah di Inggris yang merupakan negara barat paling agresif dalam mengembangkan industri ini yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah bank syariah dan penerbitan sukuk negara yang berjumlah 200 juta poundsterling tahun 2014 yang lalu.

Para mahasiswa yang hadir nampak antusias berpartisipasi terutama ketika Murniati menunjukan perbedaan antara pendekatan akuntasi dan audit untuk bank konvensional dan syariah. Terlebih lagi dalam bahasan agenda politik ekonomi dalam ranah akuntansi.