Bekal Takwa dan Fisik
Wednesday, 18 September 2013, 01:01 WIB

Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Pembimbing Haji Yayasan Darul Ulum Parung Bogor Drs KH Anwar Hidayat menjelaskan bekal untuk ibadah haji adalah takwa. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 197, ''Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.''

''Jadi bekal yang paling utama dan pertama untuk ibadah haji adalah takwa,'' ungkap kyai Anwar Hidayat kepada Republika di Parung Bogor, Selasa (17/9).

Dengan bekal takwa yakni memasrahkan diri hanya kepada Allah SWT semata, calon jamaah haji akan mendapat jaminan dari Allah SWT berupa kemabruran ibadah haji. ''Insya Allah calon haji akan mendapatkan kemudahan, kelancaran dan keselamatan dalam melaksanakan ibadah haji,'' jelasnya.

Kyai Anwar yang sejak tahun 1980 secara rutin setiap tahun membimbing jamaah haji mengungkapkan selalu mendapatkan kemudahan dalam membimbing para jamaah haji. ''Saya ini sebagai tamu Allah juga tapi punya nilai plusnya melayani tamu Allah.''

Kemudahan yang didapat baik ketika di Tanah Air, selama dalam perjalanan maupun selama berada di Tanah Suci melaksanakan ibadah haji melayanai jamaah yang diberangktakan Kabupaten Bogor melalui Yayasan Darul Ulum. ''Jadi, bekal yang paling utama adalah takwa,'' ujarnya.

Ia menyebutkan, bekal lain yang juga sangat penting adalah kesehatan. ''Harus dipahami, ibadah haji merupakan ibadah harta sekaligus fisik serta ibadah ruhaniah. Banyak manasik haji yang memerlukan kegiatan fisik, seperti thawaf, sa'i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah serta Jumrah. Itu semuanya memerlukan fisik yang prima.''

Untuk menjaga fisik yang prima, kyai Anwar mengingatkan, para calon jamaah haji harus memperhatikan pola makan yang teratur, cukup gizi, istirahat yang cukup, dan selalu konsultasi dengan dokter.

Berkaitan dengan menjaga fisik dan kesehatan, ia mengingatkan hendaknya para calon jamaah haji benar-benar bisa menjaga waktu istirahat yang baik.

Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, al hajju arafah,l  inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Maka, para calon jamaah haji harus mampu mendahulukun yang rukun. ''Karena itu dahulukan yang rukun. jangan mengejar yang sunnah,'' jelasnya mengingatkan.

Kyai mencontohkan, banyak calon jamaah haji terutama yang gelombang awal, mengisi waktu kosongnya dengan melakukan ziarah semacam safari tour, padahal inti dari ibadah haji masih lama. Maka terjadilan kelelahan yang berat bahkan kadang jatuh sakit.

''Karena terlalu sering melakukan ziarah yang bahkan tidak sunnah, akhirnya ketika wukuf tiba, badannya tidak kuat melakukan ibadah wukuf. Jadi, kita harus pintar-pintar dalam mendahulukan yang ibadah inti.''

Ia sama sekali tidak anti ziarah. Tetapi mana yang harus didahulukan. ''Jangan sampai yang jalan-jalan seperti belanja lebih banyak dilakukan, sementara yang inti malah dilupakan. Sehingga pas waktu wukuf yang merupakan inti ibadah haji, malah kelelahan. Ini yang harus dicamkan para calon jamaah haji,'' ujarnya mengingatkan.


Redaktur : Damanhuri Zuhri
BERITA TERKAIT

  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar