WHO Peringatkan Wabah Kolera di Musim Haji
Sabtu , 15 July 2017, 10:29 WIB

Prezi
Bakteri kolera.

IHRAM.CO.ID, GENEWA -- World Health Organization (WHO) memperingatkan wabah kolera saat musim haji di Saudi Arabia, September 2017 mendatang. Saat ini, Yaman menjadi wilayah epidemik dengan jumlah infeksi pada lebih dari 332 ribu orang.

Demi mencegah penularan, Saudi telah mewajibkan semua jamaah asal Yaman untuk menjalani vaksinasi kolera. Dilansir VOA News, Jumat (14/7) tahun ini ada sekitar 2-4 juta orang berkumpul di Arab Saudi. Termasuk diantaranya 1,5-2 juta jamaah asing.

WHO menilai, hal ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti demam berdarah, demam kuning, zika, meningitis, juga kolera. Wabah kolera tak hanya sedang menyebar di Yaman tapi juga sejumlah negara Afrika.

"Ini bisa menjadi risiko serius bagi seluruh jamaah haji meski mereka sudah pulang ke negara masing-masing," kata WHO dalam buletinnya. Pakar kolera WHO, Dominique Legros mengatakan Saudi tidak pernah mengalami wabah kolera.

Ini berkat tingginya pengawasan dan respons cepat untuk pemeriksaan pada laporan kasus awal. Namun, kini Saudi akan menerima banyak jamaah termasuk dari negara endemik. Sehingga pengawasan perlu ditingkatkan.

"Seperti pada kondisi lingkungannya, akses pada air, dan kehigienisan lingkungan," kata Legros. Ia menilai, Saudi sudah bersiap-siap dengan baik. Kolera sering diasosiasikan dengan kondisi lingkungan yang kotor.

Masa inkubasi penyakit berlangsung hanya selama beberapa jam. Saat gejala mulai muncul, kolera bisa membunuh dalam waktu cepat jika tidak segera mendapat pertolongan. Kolera jadi mengkhawatirkan karena sejumlah orang jarang menunjukkan gejala tertular.

Sehingga screening di bandara atau di tempat-tempat umum lainnya dinilai sia-sia. Wabah di Yaman sudah berlangsung sekitar 11 pekan. PBB menuduh penyebabnya adalah konflik. Penduduk tidak bisa mengakses lingkungan yang bersih dan bantuan yang memadai.

Jumlah kasus baru di Yaman terus bertambah sekitar 6.000 kasus per hari. Namun menurut data WHO yang diperoleh Reuters, jumlah kematian telah perlahan menurun. Tingkat kematian menurun dari rata-rata 20-40 per hari jadi rata-rata sembilan kematian per hari dalam enam hari terakhir.



Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Lida Puspaningtyas