Cerita Cinta untuk Tanah Suci
Jumat, 27 September 2013, 13:45 WIB

Jamaah haji memanjatkan doa saat pelaksanaan ibadah wukuf di puncak Jabal Rahmah di Arafah dekat kota suci Mekkah,Kamis (25/10). (Hassan Ammar/AP)

Oleh Hannan Putra

REPUBLIKA.CO.ID,Cinta. Itulah kata yang menyatukan sepasang suami-istri di Kloter 24 asal Pandeglang, Banten, dalam menunaikan ibadah haji bersama ke Tanah Suci.

Pada usia keduanya yang sudah senja, Rumsah (60 tahun) tetap setia mendampingi suaminya, Sapran (65 tahun) menuju Baitullah. Keinginan yang sudah sejak lama mereka idam-idamkan.

Rumsah tak sekadar mendampingi, namun turut menjaga sang suami yang sedang sakit.  Sebulan sebelum berangkat, Sapran memang menderita kelumpuhan. Kedua paha hingga betisnya lemas sehingga tak mampu lagi berdiri. Sapran akhirnya terpaksa dibopong berangkat haji dengan kursi roda.

Kendati demikian, hal itu tak mengurungkan niat keduanya untuk memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci. Pagi-pagi buta, Rabu (26/9), mereka sekeluarga berangkat ke Asrama Haji Pondok Gede (AHPG) dengan bus. Rumsah dan Sapran berangkat bersama ketujuh anaknya, berikut dengan cucu dan sanak keluarga. 

Ketika ditemui Republika, Rabu (26/9) di AHPG, Sapran dan Rumsah sedang diantar kedua putranya, Dedi dan Acing. Anggota keluarganya yang lain terpaksa menunggu di luar karena tidak diizinkan masuk oleh petugas.  

Di Asrama Haji Pondok Gede, Sapran harus menjalani uji kesehatan terlebih dahulu di ruang serba guna seperti jamaah lain. Rasa was-was berkalut dalam hatinya. Beruntung, kendati memakai kursi roda, Sapran lolos dari uji kesehatan dan kelayakan terbang dari tim medis. 

Setelah menjalani uji lab, Sapran diizinkan untuk berangkat haji. Kegembiraan suami istri tersebut terlihat dari air muka keduanya. Sapran terus memandangi wajah istrinya. Sementara, Rumsah sesekali menghapus keringat di leher suaminya. 

Keduanya tak berkata-kata, hanya saling memandangi satu sama lain sembari menunggu ambulans AHPG yang menjemput mereka. Ambulans lalu menghantarkan Sapran ke penginapan yang jaraknya sekitar 500 meter dari ruang serba guna. 

Kedua suami istri lanjut usia itu bagai tak terpisahkan satu sama lain. Ketika pembagian kamar, Rumsah berdiri mematung melihat suaminya dibopong ke kamar 102. Petugas tak mengizinkannya masuk bersama suaminya karena memang peraturan pemondokan tempat laki-laki dan perempuan harus terpisah. 

Usaha protesnya kepada petugas tak membuahkan hasil. Berkali-kali ia membujuk petugas, siapa yang akan merawat suaminya yang lumpuh?

Akhirnya, petugas memberikan kebijakan kamar Rumsah dan Sapran tak begitu jauh. Sapran di kamar 102 dan Rumsah di kamar 104, hanya terpisah lorong dan satu kamar.

Anak-anak mereka tampak begitu haru melepas kepergian dua lansia itu. “Berat, Mas. Tapi, saya sudah ikhlas. Apa pun yang akan terjadi, saya pasrahkan pada Tuhan,” jelasnya kepada Republika.

Sapran dan Rumsah sendiri hanyalah buruh tani. Jangankan ke luar negeri, keseharian mereka adalah sebagai warga kampung yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Bahkan, Sapran sendiri masih susah untuk diajak berbahasa Indonesia. 

Ketika Sapran masih bugar, di samping bertani, dia juga membuka warung kecil-kecilan berjualan kebutuhan sehari-hari. Rupiah demi rupiah mereka kumpulkan untuk menambah tabungan haji. 

Berpuluh-puluh tahun mereka mengumpulkan dana berangkat haji sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, tiga tahun lalu mereka bisa mendaftar sebagai calon haji (calhaj).

“Bapak dulunya kuat. Katanya waktu muda dulu jago sepak bola. Tapi, begitu selesai manasik, kakinya lemas, jadi gak kuat berdiri,” jelas Dedi, salah seorang putra Sapran.

Begitu Sapran sampai di kamarnya, teman-temannya yang juga lansia langsung mengerubungi Sapran. Mereka bersyukur karena akhirnya Sapran bisa berangkat. “Doakan kami ya, semoga selamat dalam perjalanan,” tutur Sapran dalam bahasa Sunda.

(Harian Republika/Teguh Firmansyah)

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Reporter :


  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.