Rabu, 29 Zulqaidah 1435 / 24 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

'Umat Islam Dibantai, Negara Penjaga HAM tak Peduli'

Jumat, 10 Agustus 2012, 22:03 WIB
Komentar : 1
 Pria muslim Rohingya menangis ketika dipaksa untuk naik kapal untuk dikembalikan ke Myanmar dekat pos penjaga perbatasan di Taknaf,Bangladesh,Jumat (22/6).  (Saurabh Das/AP)
Pria muslim Rohingya menangis ketika dipaksa untuk naik kapal untuk dikembalikan ke Myanmar dekat pos penjaga perbatasan di Taknaf,Bangladesh,Jumat (22/6). (Saurabh Das/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, KARACHI -- Pemerintah Human Rights Network Intikhab, Alam Suri mengaku ragu terkait kabar pemerkosaan yang dilakukan tiga Muslim Rohingya kepada gadis Buddha Rakhine di Kota Ramri. Alam Suri mengatakan, pemicu itu telah dimanipulasi.

Informasi yang diperolehnya menjelaskan, penyebab konflik adalah ketidaksenangan komunitas Buddha Rakhine setelah mendengar satu dari gadis Buddha, telah menikah dengan pria Muslim Rohingya. Konflik tersebut, lanjut Alam Suri, juga telah disusupi rencana pemerintah untuk membersihkan negara itu dari komunitas muslim.

Ia menyayangkan lambannya komunitas internasional memberikan sanksi terhadap pemerintahan junta militer itu.  Karena itu, ia mengingatkan agar negara-negara kunci PBB tidak bias dalam melihat situasi di Myanmar.

PBB, kata dia, dipastikan bersikap gegas jika konflik sekterian terjadi menimpa etnis maupun agama lainnya. "Ketika umat Islam yang dibantai, semua negara hanya sebatas memproklamirkan diri sebagai penjaga HAM, dan tidak peduli," kecam dia seperti dinukil The International News.

Reporter : Bambang Noroyono
Redaktur : Karta Raharja Ucu
Sumber : The International News
Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar