Jumat, 25 Jumadil Akhir 1435 / 25 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Walubi: Krisis Rohingya Murni Politik Bukan Agama

Kamis, 09 Agustus 2012, 21:46 WIB
Komentar : 2
 Ratusan demonstran yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Rohingya melakukan aksi dorong ketika berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta, Kamis (9/8). (M Agung Rajasa/Antara)
Ratusan demonstran yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Rohingya melakukan aksi dorong ketika berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta, Kamis (9/8). (M Agung Rajasa/Antara)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya dianggap bukanlah masalah agama tetapi ada kepentingan politik oleh rezim otoriter junta militer Myanmar.

Hal itu disampaikan Ketua Majelis Budhayana kota Surabaya, Romo Abaya dalam pernyataan sikap di Forum pertemuan Kerukunan Umat Beragama di Royal Plaza, Surabaya, Kamis (9/8).

"Tragedi kemanusiaan terhadap etnis muslim minoritas Rohingya di Myanmar bukanlah terkait isu keagamaan, tetapi tragedi ini adalah murni dari kejahatan dari pemerintahan otoriter junta militer di myanmar," ungkap Abaya kepada Republika.

Lanjut ia mengatakan, Walubi memandang ada upaya dari luar Myanmar memanfaatkan rezim otoriter di myanmar untuk mencari perhatian masyarakat myanmar dan dunia. Salah satunya dengan melakukan kambing hitam terhadap para pengikut Budha disana, termasuk mendiskreditkan para Bikhu dan Banthe disana.

Abaya yakin, foto dan di video yang tersebar dimana seolah-olah para banthe dan bikhu ikut dalam pembunuhan etnis muslim Rohingya tidaklah benar. Karena dari informasi konsulat Walubi di myanmar bahwa ada beberapa oknum yang sengaja menggunakan pakaian bikhu dan banthe dan melakukan aksi kekejian itu.


Reporter : Amri Amrullah
Redaktur : Hafidz Muftisany
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS Al-Baqarah: 39)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  arief61 Jumat, 10 Agustus 2012, 11:19
Spiritualime yang mengakar pada pribadi..PASTI pribadi dalam atribut yaitu pejabat, pemuka agama, rakyat biasa, tokoh pejuang, cendekia tidak akan membiarkan dan pasti mencegah terjadi tragedi ini. Itu baru manusia NORMAL.