Kamis , 18 Mei 2017, 18:21 WIB

Inilah Penantang Terkuat Rouhani di Pemilu Iran

Red: Ani Nursalikah
AP Photo/Vahid Salemi
Pendukung Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) memegang posternya. Di kiri, seorang warga memegang poster rival terkuat Rouhani, Ebrahim Raisi saat kampanye 17 Mei 2017. Iran akan menggelar pemilu presiden pada Jumat, 19 Mei 2017.
Pendukung Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) memegang posternya. Di kiri, seorang warga memegang poster rival terkuat Rouhani, Ebrahim Raisi saat kampanye 17 Mei 2017. Iran akan menggelar pemilu presiden pada Jumat, 19 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Penantang terkuat Rouhani adalah ulama Ebrahim Raisi (56 tahun) yang mengatakan Iran tidak memerlukan bantuan asing serta menjanjikan kebangkitan kembali nilai-nilai Revolusi Islam 1979. Dia didukung oleh Garda Revolusi elite Iran, pasukan keamanan utama negara tersebut, petempur sukarela Basij, ulama dan dua kelompok ulama berpengaruh.

Raisi seorang penantang utama yang merupakan sekutu dekat dan anak didik Khamenei. Ia merupakan satu dari empat hakim Islam yang memerintahkan eksekusi ribuan tahanan politik pada 1988. Media Iran telah memperbincangkan dirinya sebagai calon penerus masa depan Khamenei.

Raisi menyasar pemilih ekonomi lemah dengan berjanji untuk menciptakan jutaan lapangan kerja. "Meskipun tidak realistis, janji semacam itu pasti akan menarik jutaan pemilih miskin," kata Saeed Leylaz, seorang ekonom terkemuka Iran yang dipenjara karena mengkritik kebijakan ekonomi pendahulu Rouhani, Mahmoud Ahmadinejad.

Meskipun pemimpin tertinggi secara resmi berada di atas kericuhan politik sehari-hari, Khamenei dapat mempengaruhi pemilihan presiden dengan memberi dukungan kepada kandidat secara diam-diam, sebuah langkah yang dapat membangkitkan upaya garis keras untuk mendapatkan suara konservatif.

Baca: Pemilihan Presiden Iran, Rouhani Masih Favorit

"Raisi memiliki peluang bagus untuk menang, namun tetap hasilnya tergantung keputusan pemimpin Khamenei," kata mantan pejabat senior, yang menolak disebutkan identitasnya.

Sejauh ini Khamenei hanya menyebutkan kepada publik jumlah pemilih yang tinggi, dengan mengatakan musuh-musuh Iran telah berusaha menggunakan pemilihan tersebut untuk "menyusup" struktur kekuasaannya, dan jumlah pemilih yang tinggi akan membuktikan legitimasi sistem tersebut.

Jumlah keikutsertaan pemilih yang tinggi juga dapat meningkatkan peluang Presiden Hassan Rouhani, yang berhasil berkuasa pada 2013 atas janjinya mengurangi isolasi internasional Iran dan memberikan lebih banyak kebebasan di dalam negeri. Ancaman terbesar terhadap pemilihan kembali dirinya adalah sikap apatis dari pemilih yang kecewa karena merasa tidak mendapatkan perbaikan yang mereka harapkan.

"Hasilnya tergantung pada apakah persoalan ekonomi akan menang atas persoalan kebebasan," kata seorang pejabat yang dekat dengan Rouhani. "Jumlah pemilih yang rendah bisa membahayakan Rouhani," tambahnya.

Iran akan menggelar pemilihan presiden yang pertama sejak kesepakatan nuklir 2015 pada Jumat, 19 Mei.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Perspektif Internasional untuk Opini Publik pada 10 Mei lalu menunjukkan Rouhani masih memimpin dengan sekitar 55 persen suara, walaupun survei semacam itu tidak memiliki catatan yang akurat untuk memprediksi hasil pemilihan di Iran. Jika tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari 50 persen suara, dua kandidat teratas akan bersaing dalam pemilihan putaran selanjutnya pada 26 Mei mendatang.

Sumber : Antara