Friday, 6 Safar 1436 / 28 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Menlu AS Mencela Pertumpahan Darah di Mesir

Thursday, 15 August 2013, 06:58 WIB
Komentar : 3
AP/Lai Seng Sin
Poster Presiden Mesir Muhammad Mursi
Poster Presiden Mesir Muhammad Mursi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Rabu (14/8), mencela pertumpahan darah dan kerusuhan paling akhir di Mesir, dan menyebutnya "pukulan serius" terhadap upaya perujukan di negeri itu.

"Itu adalah pukulan serius terhadap perujukan dan harapan rakyat Mesir bagi peralihan ke arah demokrasi dan keterlibatan semua pihak," kata diplomat senior Amerika itu di dalam satu pernyataan yang ia bacakan dalam taklimat harian.

"Kejadian hari ini tercela dan semua itu bertentangan dengan aspirasi rakyat Mesir bagi perdamaian, keterlibatan semua pihak dan demokras murni," ia menambahkan.

Stasiun TV negara melaporkan kematian sedikitnya 43 polisi dan cederanya 211 personel lagi dalam bentrokan dengan pendukung presiden terguling Mesir Mohamed Moursi, selama operasi polisi untuk membubarkan pemrotes di Ibu Kota Mesir, Kairo.

Pengikut Moursi telah berkemah di dua bundaran di Kairo guna menuntut pemulihan Moursi sebagai Presiden Mesir. Penggulingannya pada 3 Juli oleh militer telah memicu bentrokan mematikan di seluruh negeri itu.

Kementerian Kesehatan Mesir sebelumnya menyatakan tindakan politi tersebut untuk membersihkan kamp pendukung Mursi telah mengakibatkan bentrokan di seluruh Mesir, sehingga menewaskan tak kurang dari 149 orang dan melukai lebih dari 1.400 orang lagi.

"Rakyat Mesir di dalam dan luar pemerintahan perlu melakukan tindakan untuk mundur," kata Kerry. "Mereka perlu meredakan situasi dan menghindari lebih banyak korban jiwa."
Ia juga mengusulkan Mesir kembali ke keadaan darurat.

Namun, berdasarkan percakapan teleponnya dengan menteri luar negeri Mesir dan negara lain pada Rabu, ia mengatakan ia yakin jalan ke arah penyelesaian politik "masih terbuka" dan "mungkin".

Sementara itu Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang mencela penindasan kasar terhadap pemrotes dan mendesak semua pihak di Mesri agar menahan diri dari kerusuhan dan menyelesaikan perbedaan pendapat mereka "secara damai".

Redaktur : Taufik Rachman
Sumber : antara
Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku(HR Muslim)
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Kewajiban Muslim Penuhi Hak-Hak Binatang
JAKARTA -- Ketua Pemuliaan Lingkungan Hidup & SDA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Hayu Prabowo menuturkan sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk...

Berita Lainnya

Usai Pembantaian, El Baradei Mundur dari Jabatannya

Mesir Bantai Demonstran, Dunia Bereaksi

Mesir Memburuk, Menlu: Indonesia Sangat Prihatin