Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

Presiden Yaman Copot Jabatan Militer Putra Saleh

Kamis 11 April 2013 07:33 WIB

Red: Djibril Muhammad

Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi

Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi

Foto: ustoday

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi mencopot jabatan putra pendahulunya sebagai panglima pasukan elit Garda Republik. Demikian dilaporkan televisi pemerintah, Rabu (10/5) dalam sebuah langkah yang tampaknya untuk menyatukan angkatan bersenjata di bawah kendalinya sendiri.

Televisi Yaman membacakan serangkaian perintah Presiden Hadi yang mengangkat Brigjen Ahmed Ali Abdullah Saleh, putra mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, sebagai duta besar untuk Uni Emirat Arab.

Hadi telah berjanji menyatukan militer yang terpecah antara pendukung dan penentang Ali Abdullah Saleh, yang mengundurkan diri sesuai dengan perjanjian sponsoran negara Teluk pada 2012 setelah protes setahun terhadap kekuasaannya namun masih memiliki banyak pendukung di Yaman.

Televisi Yaman mengatakan, Hadi juga mengangkat Jendral Ali Mohsen al-Ahmar, panglima Divisi Lapis Baja I, sebagai penasihat presiden untuk urusan militer.

Ahmar adalah saingan Ahmed Saleh dan berpihak pada para penentang ayahnya dalam krisis politik 2011, dengan mendukung aktivis yang turun ke jalan untuk menuntut pengunduran diri Presiden Saleh.

Pemulihan stabilitas di Yaman merupakan prioritas AS dan sekutu-sekutunya di Teluk, yang khawatir atas ancaman ekstrimisme di negara itu, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).

AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu.

Militan Alqaidah memperkuat keberadaan mereka di wilayah selatan, dengan memanfaatkan melemahnya pemerintah pusat akibat pemberontakan anti-pemerintah yang meletus pada Januari 2011.

Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari 2012 menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida.

Ofensif pasukan Yaman yang diluncurkan pada Mei 2012 berhasil menghalau militan Alqaidah dari sejumlah kota dan desa di wilayah selatan dan timur yang selama lebih dari setahun mereka kuasai.

Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Sumber : Antara/ Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Istana Ini Kini Menjadi Museum

Rabu , 24 January 2018, 09:15 WIB