REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Pemutaran film dokumenter tentang sejarah kaum Yahudi di Mesir menjadi kontroversi yang memanas di negeri piramida itu.
Lembaga Sensor film Mesir diklaim telah menyetujui pemutaran film tersebut, namun beberapa pihak terus mengecam agar film tersebut dilarang diputar.
Produser film Yahudi itu, Haitham al-Khamissi pada Rabu (13/3) kemarin mengatakan telah mengantongi izin dari Lembaga Sensor Film Mesir. Dia pun optimistis film tersebut bakal tayang di bioskop.
Namun pihak Keamanan Negara meminta untuk memeriksa kembali film 'Jews of Egypt' sebelum diputar.“Pihak berwenang telah menyetujui film saya. Saya hanya meminta pembaruan izin tetapi sampai sekarang saya belum menerimanya,” papar Khamissi seperti dilansir dari ahram.com.eg, pada Kamis (14/3).
Menurut Khamissi, film yang digarapnya sama sekali tidak berkaitan dengan isu SARA. Bahkan film seperti itu perlu didukung karena salah satu bentuk kebebasan berekspresi di negara yang mempunyai pemerintahan Islam tersebut.
Film yang digarap Khamissi bercerita tentang perjalanan kaum Yahudi kuno yang menjadi minoritas ditengah-tengah umat Islam pada awal abad ke-20. Walau menjadi minoritas, masyarakat Mesir yang beragama Islam menerima dan hidup berdampingan dengan kaum Yahudi secara damai.
Setelah perang 1956 yang melibatkan Israel dan Mesir tentang perebutan Terusan Suez, warga Yahudi banyak yang melarikan diri. Perang tersebut juga mengisahkan campur tangan Inggris dan Prancis yang memboncengi Mesir dan Israel.
Film ini berujung dengan berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Pandangan dunia terhadap kaum Yahudi akhirnya berubah. Kaum Yahudi dianggap lebih terhormat dan bermartabat.