REPUBLIKA.CO.ID, LONDON—Negara Inggris dan Prancis menekan 27 negara anggota Uni Eropa untuk memasok persenjataan kepada pemberontak Suriah sebagai bagian komitmen embargo.
Embargo senjata ini adalah kesepakatan bersama anggota Uni Eropa sejak bulan lalu dan efektif per 1 Maret. Tiap tiga bulan sekali kesepakatan akan diteken ulang oleh para anggotanya. Bila tidak ada kesepakatan perpanjangan lagi di antara mereka, maka embargo dengan sendirinya dihapus.
"Kami harap ini akan mempengaruhi kerja sama negara Eropa. Sebuah perubahan penting ke depan akan membuat pihak-pihak yang kontra akan berbalik setuju. Tapi jika tidak, kami akan bertindak dengan cara kami sendiri,” tegas PM Inggris David Cameron di tengah rapat parlemen, Selasa (12/3).
Inggris tidak secara eksplisit menyatakan ingin mempersenjatai kelompok pemberontak Suriah. Meski, berulangkali mereka menyatakan tidak ada pilihan yang lebih baik mengatasi konflik kecuali terlibat langsung di lapangan.
Sementara Prancis yang diwakili Menteri Luar Negeri Laurent Fabius menginginkan keseimbangan kekuatan baru harus diciptakan di Suriah. Dia menyatakan Prancis akan mengambil langkah terkait isu embargo tanpa mau menjelaskan secara detail. Salah satu pejabat senior Prancis pernah memberi petunjuk bahwa jenis senjata antiserangan udara bisa memberi kontribusi kepada para pemberontak.
“Kita mengerti ide tidak melawan senjata dengan senjata. Tapi kenyataannya pihak oposisi dibombardir pihak lain yang mendapat akses senjata, sementara mereka (oposisi) tidak. Itu posisi yang sulit,” jelasnya.
Prancis dan inggris menuduh rezim Presiden Suriah Assad al-Bashar mengerahkan seluruh kekuatan pasukannya untuk menghabisi musuhnya. Dia juga dikatakan berlindung di balik ketentuan negara lain yang sepakat tidak mempersenjatai oposisi agar kekuasaannya di masa transisi bisa bertahan.
Setelah berminggu-minggu berusaha menekan Uni Eropa, Inggris sedikit demi sedikit melonggarkan opsi embargo. Tantangan terkuat buat Inggris dan Prancis datang dari Jerman. Negara Tembok Berlin ini memperingatkan efek perpecahan wilayah dan perang jika Uni Eropa memasok senjata bagi pemberontak Suriah.
| Reporter : Indah Wulandari |
| Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari |
| Sumber : Reuters |