Kamis , 04 October 2012, 12:17 WIB

Efek Turunnya Mata Uang Rial, Iran Dilanda Huru-hara

Red: Djibril Muhammad
AFP
Polisi anti huru-hara Iran siaga setelah membubarkan demonstrasi warga Teheran yang memprotes kenaikan harga-harga (3/10).
Polisi anti huru-hara Iran siaga setelah membubarkan demonstrasi warga Teheran yang memprotes kenaikan harga-harga (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Video amatir dari Teheran menunjukkan para demonstran berkumpul di luar sebuah pasar di pusat ibukota, beberapa saat sebelum polisi anti huru-hara membubarkan demonstrasi. Konfirmasi independen mengenai keakuratan video itu belum bisa diperoleh karena berbagai larangan atas liputan berita di Iran.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah menepiskan kecaman dalam negeri yang semakin meningkat atas kebijakan-kebijakan ekonominya. Nilai mata uang Iran, rial terhadap dolar AS anjlok ke titik terendah pekan ini.

Salah satu yang memotivasi penurunan nilai mata uang iran tersebut adalah sanksi ekonomi yang diberikan AS dan Eropa terhadap Iran. Sanksi tersebut merupakan tindakan Barat untuk menekan Iran agar dapatmenghentikan program pengayaan uranium yang dinilai kontroversial.

Para pedagang di kaki lima mengatakan untuk membeli satu dolar di pasar gelap diperlukan 39 ribu rial. Sementara pekan lalu satu dolar setara dengan 24 ribu rial.

Seperti diketahui pada sesi perdagangan Senin (1/10), mata uang Iran anjlok sekitar 17 persen. Menurut situs Mesghal.com, mata uang, rial, melemah menjadi 34.500 terhadap dolar AS pada akhir hari perdagangan, sebuah penurunan dari 16,6 persen dibandingkan dengan tingkat hari sebelumnya dari 29.600.

Kantor berita Mehr mengatakan, rial jatuh 18 persen menjadi 35.000. Rial telah kehilangan lebih dari 80 persen dari nilainya dibandingkan dengan akhir tahun lalu, ketika rial bernilai 13 ribu terhadap dolar AS.

Iran sedang mengalami ketegangan geopolitik yang meningkat atas program nuklirnya dan dampak dari sanksi ekonomi keras Barat membatasi akses terhadap ekspor minyaknya yang berkurang. Iran juga dibebani dengan inflasi tinggi dan meningkatnya pengangguran.

Sumber : VOA/AFP