Monday, 24 September 2012, 07:36 WIB

Mursi: AS Membeli Kebencian Orang Arab

Rep: Adi Wicaksono/ Red: Karta Raharja Ucu
Amr Abdallah Dalsh/Reuters
Presiden Mesir, Muhamad Mursi.
Presiden Mesir, Muhamad Mursi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat dinilai selalu memaksakan kehendaknya di suatu negara, khususnya wilayah Timur Tengah. Tak pelak, AS selalu menggunakan cara-cara koboi untuk masuk ke suatu negara, tanpa memikirkan masyarakatnya yang tersinggung negaranya diacak-acak pihak asing.

Karenanya, Presiden Mesir, Muhamad Mursi menyerukan Negeri Paman Sam itu mengubah pendekatannya secara mendasar terhadap negara-negara di kawasan Timteng. Mursi berpendapat AS harus menunjukkan respek yang lebih besar terhadap nilai-nilai yang ada di negara-negara tersebut.

"Pemerintahan AS secara turun-temurun membeli ketidaksukaan, jika bukan kebencian dari orang-orang negara Arab, dengan uang pajak warga Amerika," kata dia dalam sebuah interview dengan New York TImes seperti dilansir Press TV, Senin (24/9).

"Saya," sambung Mursi, "membuktikan independensi saya dengan melakukan tindakan-tindakan yang tepat bagi negara saya."

Mursi mengakui adanya perbedaan budaya dan nilai di antara dua peradaban tersebut. Namun, hal itu bukanlah penghalang untuk menunjukkan respek terhadap nilai-nilai universal.

"Jika Anda ingin menilai perilaku orang Mesir dengan standar budaya Amerika, maka tidak ada ruang untuk penilaian. Ketika orang Mesir memutuskan sesuatu bisa jadi hal itu tidak tepat bagi AS. Dan ketika orang Amerika memutuskan sesuatu, tentu saja itu juga bisa jadi tidak tepat bagi Mesir," papar Presiden Mesir pertama yang hafal Alquran. (baca: Mursi Presiden Mesir Pertama Hafal Alquran).

Dalam kesempatan itu, Mursi juga menyinggung tanggung jawab AS bagi kemerdekaan rakyat Palestina. Ia mengingatkan AS telah menandatangani perjanjian Camp David 1978 yang menyerukan penarikan tentara Israel dari Tepi Barat dan Gaza.