Tuesday, 07 August 2012, 16:07 WIB

Kawan Assad: Teman Sekelasku Penjahat Perang (III-habis)

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reuters
Bashar al-Assad
Bashar al-Assad

REPUBLIKA.CO.ID, Sahloul menyatakan ia tak melihat teman sekelasnya saat dilantik presiden. Kini ia pun tak menganggap sebagai presiden. "Hari-hari kepemimpinan Assad sepertinya sudah bisa dihitung," ujarnya.

Dulu ia pernah bertanya kepada Assad apakah ia pernah berpikir Suriah siap untuk demokrasi. Assad, tuturnya, berkata tidak.

Saat itu Assad mengacu pada budaya kesukuan dan bawaan sektarian di Suriah. Kini, ia melihat penolakan Assad untuk mengakui seruan rakyatnya untuk pemerintahan yang lebih demokratis bisa jadi telah menghantuinya.

Namun, Sahloul juga mengingatkan, rezim Assad sepertinya tidak segan untuk membawa seluruh negara dan bangsa runtuh bersamanya.

"Rezim masih kuat," ujar Sahloul. "Tentara masih bersekutu kuat dengan rezim dan kombinasi itu bisa menyebabkan banyak kerusakan dan bencana sebelum mereka tersingkir dari kekuasaan," ujarnya.

"Tapi yang pasti, rezim telah berakhir," ujar Sahloul. "Kini tak ada seorang pun di Suriah yang akan mengizinkan rezim memimpin lagi," imbuhnya.

Rakyat Suriah, kata Sahloul telah memecahkan benteng ketakutan mereka sendiri. "Jadi mustahil bagi dia untuk terus berkuasa dan memimpin Suriah."

"Ini bukan lagi perkara kepemimpinannya, ini hanya persoalan kapan," ujar Sahloul.

Sumber : Aljazirah
loading...