Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kunjungi Mesir, Hillary Clinton Temui Mursi

Sabtu, 14 Juli 2012, 22:14 WIB
Komentar : 6
AP
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton.
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, tiba di Mesir, Sabtu (14/7) untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden baru Mesir, Mohammed Mursi.

Ini akan menjadi kunjungan Hillary yang kedua semenjak pemberontakan rakyat Mesir terhadap rezim Hosni Mubarak.

Kedatangan Clinton di tengah situasi yang memanas antara Mursi dan militer setelah Mursi menerbitkan dekrit untuk mengaktifkan kembali parlemen yang dibekukan oleh militer.

"Orang-orang Mesir harus memperoleh apa yang mereka perjuangkan, dan pemerintah yang mereka pilih adalah pembuat keputusan bagi negara untuk melangkah," ungkap Hillary.

Hillary akan melakukan kunjungan dua hari. Selain bertemu Presiden dari Ikhwanul Muslimin, ia juga akan bertemu masyarakat sipil serta militer. "Kami mendesak dialog dan upaya bersama untuk mencari jalan keluar. Semua opsi harus dilakukan, jangan sampai masalah ini bisa menggagalkan transisi," imbuhnya.

Parlemen Mesir dibubarkan bulan lalu oleh Mahkamah Agung atas dorongan militer, sehari sebelum pemilu presiden putaran kedua digelar yang dimenangkan oleh Mursi.

Dalam kunjungannya, Hillay berjanji tetap berkomitmen untuk bekerjasama dengan Mesir, baik pemerintah maupun masyarakat sipil untuk menyelesaikan transisi.






Reporter : Lingga Permesti
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Al-Arabiya/AFP
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)((QS ar-Rum: 41))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  amir Rabu, 18 Juli 2012, 09:20
menjalin hubungan semua pihak itu penting....asal punya idependensi dan tegak berdiri menjaga izzah muslim sebagaimana Erbakan Turkei
  Citra123@yahoo.com Senin, 16 Juli 2012, 02:15
First he has attended to Saudi and met with Saudi king, USA puppet, second has met with Hillary, and then will go black house Washington. Oh my god I hope ikhwan and his supporter thinking about it. Anwar Sadat is the first lesson for you, he was ikhwan member and also CIA collaborator