Selasa, 25 Ramadhan 1435 / 22 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Babak Baru Perselisihan Mursi dengan Militer Mesir

Rabu, 11 Juli 2012, 03:00 WIB
Komentar : 5
 Presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi menyampaikan pidato politiknya di depan puluhan ribu pendukungnya yang berkumpul di Tahrir Square, Kairo.   (Reuters)
Presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi menyampaikan pidato politiknya di depan puluhan ribu pendukungnya yang berkumpul di Tahrir Square, Kairo. (Reuters)

REPUBLIKA.CO.ID,Mesir kini memasuki babak baru. Hal itu terjadi setelah dilangsungkannya pemilu presiden yang memenangkan calon dari Ikhwanul Muslim, Mohamed Mursi. Walaupun, sebagian pihak masih ada yang meragukan kesahihan hasil pemilu pascatumbangnya rezim Hosni Mubarak tersebut.

Namun, babak baru itu juga membawa konsekuensi tersendiri. Pangkalnya adalah langkah presiden terpilih, Mursi yang ingin kembali mengaktifkan parlemen. Langkah tersebut ditolak mentah-mentah oleh Mahkamah agung (MA) Mesir. Bahkan dijelaskan bahwa putusan MA membubarkan Parlemen adalah mengikat secara hukum.

Seperti diketahui pada bulan lalu MA Mesir dukungan militer membubarkan Parlemen yang baru terpilih - yang didominasi kelompok-kelompok Islamis termasuk Ikhwanul Muslimin. Salah satu alasannya sebagian besar anggota baru menempati kursi yang diperuntukkan bagi calon independen.

Tapi Presiden Mursi, yang juga berasal dari Ikhwanul Muslimin minggu ini berusaha membatalkan putusan tersebut dengan mengumumkan bahwa Parlemen akan bersidang kembali dan menggunakan semua wewenangnya.

Akan tetapi MA Mesir menolak langkah Presiden itu. Ketua Parlemen sudah mengundang para anggota ke sidang pembukaan Parlemen. Sementara pihak kepolisian sudah dikerahkan ke Parlemen untuk berjaga-jaga menghadapi ancaman keamanan.

Sedangkan sebagian kalangan di Mesir mengaku khawatir akan terjerumus ke dalam putaran baru ketidak-pastian dan kerusuhan, Mengingat, setelah banyak warga Mesir menyadari bahwa pemilu legislatif di mana mereka memberikan suara pada tahun ini ternyata tidak sah.

Ikhwanul Muslimin sudah lama bermusuhan dengan militer sebagai kekuatan politik saingan. Selama puluhan tahun, Ikhwanul Muslimin dilarang di bawah rejim mantan presiden Hosni Mubarak hinga pergolakan rakyat menggulingkannya.

Kini sepertinya semakin besar kemungkinan munculnya ketegangan politik dengan rejim militer, yang nampaknya bertekad mempertahankan kekuasaan.

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : www.radioaustralia.net.au
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Mediasi Gencatan Senjata di Gaza, Tapi AS Tetap Bantu Israel
GAZA -- Dunia internasional mendesak Israel dan Hamas segera menghentikan perang yang telah mengakibatkan ratusan korban sipil, khususnya di Gaza. Amerika...