Kamis, 23 Zulqaidah 1435 / 18 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

'Perang Saudara di Suriah akan Menyebar ke Israel'

Senin, 04 Juni 2012, 13:03 WIB
Komentar : 4
Reuters/Shaam News Network/Handout
Seorang bocah lelaki memegang sarung guling replika jasad mati saat menggela demonstrasi menentang Presiden Suriah, Bashar al-Assad di Binsh, Idlib, pada Sabtu (1/6)
Seorang bocah lelaki memegang sarung guling replika jasad mati saat menggela demonstrasi menentang Presiden Suriah, Bashar al-Assad di Binsh, Idlib, pada Sabtu (1/6)

REPUBLIKA.CO.ID, Salah seorang anggota parlemen Iran mengatakan, jika terjadi perang saudara di Suriah, krisis berikutnya tidak akan terbatas pada Suriah namun akan menyebar ke negara tetangga termasuk Israel.

Mengacu pada eskalasi terbaru dari operasi teroris di Suriah, Seyyed Hossein Naqavi Hosseini mencatat bahwa operasi tersebut dipandu badan intelijen Israel, Mossad.

"Warga Suriah marah atas darah yang telah tertumpah dan menyalahkan rezim Zionis [Israel] sebagai penyebab utama. Oleh karena itu, tidak akan lama lagi mereka akan mengganggu keamanan wilayah-wilayah Israel," katanya, Ahad (3/6).

Menunjuk keputusan terbaru beberapa negara Barat yang mengusir diplomat Suriah sebagai reaksi terhadap pembantaian di Houla, anggota parlemen Iran mengatakan langkah tersebut bertujuan untuk mengalihkan perhatian internasional atas usaha intervensi asing di Suriah.

"Jika intervensi asing di Suriah terus berjalan dengan cara yang dilakukan saat ini, situasi di negara ini akan menjadi lebih kritis dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kebijakan Barat akan tumbuh," tuturnya.

Dia juga mengkritik pengamat PBB di Suriah yang tidak bertindak menagangi situasi di negara itu, meskipun para pengamat memberikan kesaksian palsu, mereka tidak melakukan apapun untuk menghentikannya.

Pada 25 Mei lalu, bentrokan mematikan pecah antara pasukan Suriah dan kelompok bersenjata di Houla, yang terletak di provinsi tengah Homs. Menurut kepala misi pengamat PBB di Suriah, Mayor Jenderal Robert Mood, 108 orang tewas dalam bentrokan tersebut, termasuk 49 anak dan 34 wanita.

Beberapa hari kemudian, pada 30 Mei, pemerintah Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Kanada, Australia, dan Swiss mengumumkan pengusiran duta besar Suriah dari negara mereka.

Beberapa pemerintah Barat menyalahkan Damaskus atas pembunuhan itu, tetapi penyelidikan pemerintah Suriah atas insiden mematikan itu menunjukkan bahwa kelompok bersenjata anti-Damaskus telah melakukan pembunuhan mematikan itu untuk "membuka jalan intervensi militer asing dengan segala bentuk dan cara ke Suriah.

Redaktur : Djibril Muhammad
Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Atasi Masalah Grafiti, ini Cara Kreatif Washington DC
WASHINGTON --  Kota besar seperti ibukota Amerika Serikat, Washington DC, juga menghadapi masalah graffiti karena semakin banyaknya dinding gedung dan tempat umum yang...