Senin, 02 April 2012, 05:43 WIB

AS-Saudi Ribut Soal Pasokan Senjata Pemberontak Suriah

Red: Endah Hapsari
AP/Homs City Union of The Syrian Revolution
Asap mengepul dari sebuah gedung setelah tentara Suria membakar Kota Horms, basis Persatuan Revolusia Suriah, di Jeb al-Jandali, Provinsi Homs, Suriah tengah.
Asap mengepul dari sebuah gedung setelah tentara Suria membakar Kota Horms, basis Persatuan Revolusia Suriah, di Jeb al-Jandali, Provinsi Homs, Suriah tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, Menyusul situasi yang kian memanas di Suriah, perwakilan dari sebagian besar negara-negara Barat dan sejumlah sekutu Arab mereka telah berkumpul di Istanbul, Turki, untuk menggelar pertemuan kedua "Friends of Syria" pada Ahad (1/4).

Mereka membicarakan isu-isu terkait internal di Suriah, termasuk pasokan senjata kepada oposisi Suriah. Keamanan di Istanbul diperketat demi lancarnya konferensi anti-Damaskus tersebut.

Barat sebagai motor pertemuan itu mengklaim bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk menyatukan oposisi Suriah. Rupanya, dua peserta kunci, Amerika Serikat dan Arab Saudi, berbeda pendapat terkait pemasokan senjata kepada oposisi Suriah.

Riyadh ingin senjata-senjata dikirim ke kelompok oposisi di Suriah. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Saud al-Faisal menilai mempersenjatai pemberontak Suriah sebagai ide yang bagus. 

Sedangkan Washington khawatir senjata-senjata itu akan jatuh ke tangan yang salah. Rusia dan Cina serta Irak, telah memboikot pertemuan di Istanbul.

Pada Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich kepada wartawan di Moskow mengatakan bahwa konferensi di Istanbul tidak ingin mencari solusi terhadap krisis di Suriah, tetapi ingin mempersiapkan panggung baru untuk melakukan intervensi.

Sumber : IRIB/IRNA