
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Warga Suriah membutuhkan bantuan ambulans dan obat-obatan. Seorang dokter yang bernama Mohammed mengatakan kepada televisi Al Arabiya bahwa ia dan timnya bekerja di bawah tekanan yang sangat besar dan persediaan obat-obatan mulai menipis, Rabu (8/2).
Ia meminta agar dunia menekan pemerintahan Suriah agar mengizinkan ambulans masuk dan mengevakuasi warga yang terluka.
Rami Abdel Rahman dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia di London mengatakan kepada Alhurra TV bahwa penembakan yang dilakukan pemerintah Suriah telah menciptakan bencana. Menurutnya, sulit untuk mengetahui berapa jumlah korban karena banyak dari mereka yang terkubur di bawah reruntuhan.
Abdel Rahman juga mengatakan milisi propemerintah telah menewaskan 30 orang dari tiga keluarga dalam semalam ketika mereka menyerbu sebuah rumah di pinggiran Homs. Ia menyebutnya sebagai pembantaian.
Aktivis Suriah mengatakan pasukan pemerintah telah menewaskan sedikitnya 50 orang dalam serangan yang berlangsung di pusat kota Homs. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah mempertimbangkan untuk mengirim tim PBB bersama Liga Arab untuk memantau kekerasan yang terjadi.
Aktivis Inggris mengatakan tentara pemerintah menyerang Homs dengan tembakan, roket dan peluru pada Rabu. Serangan tersebut merusak lebih dari 20 bangunan di distrik yang dikuasai pemberontak. Para aktivis mengatakan pemboman pemerintah Homs telah menewaskan ratusan orang sejak dimulai Sabtu pagi.
Dalam sebuah video yang dirilis oposisi, seorang pemuda bernama Danny Abou Diyne yang bekerja di sebuah klinik lapangan di distrik Homs Baba Amr menunjukkan jasad seorang anak berusia dua tahun. Dia mengatakan anak tersebut tewas ketika sebuah roket menghantam rumahnya.