Jumat , 08 December 2017, 02:55 WIB

Erdogan Sebut Trump Injak-Injak Hukum Internasional

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Esthi Maharani
Republika/Mardiah
Recep Tayyip Erdogan (Ilustrasi)
Recep Tayyip Erdogan (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENS -- Presiden Turki Tayyip Erdogan menyayangkan keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Erdogan mengatakan tindakan Trump telah menginjak-injak hukum internasional.

"(Pengakuan Trump terkait Yerusalem sebagai ibu kota Israel) telah menginjak-injak hukum internasional," ungkap Erdogan di Athens pada Kamis (7/12) seperti dilansir Reuters.

Sebelum berangkat ke Athens, Yunani, Erdogan juga sempat mengungkapkan kecamannya terhadap pernyataan kontroversial Trump. Erdogan menilai pernyataan Trump hanya akan semakin memanaskan konfik yang terjadi di Palestina dan Israel.

"Apa yang akan Anda lakukan (dengan langkah ini), Pak Trump? Sikap macam apa ini?" kata Erdogan saat ditemui di Bandara Esenboga seperti dilansir Aljazirah.

Dalam kesempatan berbeda, Erdogan juga mengatakan bahwa status Yerusalem merupakan hal yang sangat penting bagi ummat Muslim. Karena itu, para pemimpin dunia seharusnya bekerjasama dalam menciptakan peramaian, bukan memperburuk masalah yang ada.

Erdogan juga melihat bahwa Yerusalem merupakan tempat yang suci bagi umat Kristiani. Oleh karena itu ia berencana untuk bertemu dan berdiskusi dengan Paus Francis terkait keputusan sepihak Trump pada Kamis malam atau Jumat (8/12) pagi.

Sebagai respon terhadap pernyataan Trump, Turki juga akan menggelar pertemuan luar biasa Organisasi Negara Isalm (OIC). Diskusi yang digelar pada 13 Desember ini akan membahas lebih lanjut mengenai sikap Amerika Serikat dalam konflik Palestina-Israel.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Negosiator Palestina Saeb Erekat. Erekat mengatakan pernyataan Trump telah merusak kemungkinan perdamaian antara Palestina dan Israel. Trump, lanjut Erekat, justru mendorong kedua wilayah ini ke jurang kekacauan dan kekerasan.

"Ia merusak para moderat di wilayah itu dan memberi kekuatan bagi para ekstrimis," kata Erekat.

Erekat menilai pernyataan Trump merupakan keputusan paling berbahaya yang pernah diambil oleh presiden Amerika Serikat sepanjang sejarah. Erekat mengatakan keberadaan negara Palestina akan tidak berarti tanpa Yerusalem sebagai ibu kota dari negara tersebut.