Jumat , 08 December 2017, 02:45 WIB

Palestina-Israel Kembali Bentrok Setelah Pernyataan Trump

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Esthi Maharani
Voa news
Palestina-Israel bentrok setelah pernyataan Trump
Palestina-Israel bentrok setelah pernyataan Trump

REPUBLIKA.CO.ID, PALESTINA -- Warga Palestina dan pasukan tentara Israel kembali bentrok dalam aksi protes yang terjadi pada Kamis (7/12) di West Bank (Tepi Barat) dan Gaza. Aksi protes ini dilakukan sebagai respon terhadap pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Di Tepi Barat, para pendemo melempar bebatuan kepada pasukan tentara Israel. Pendemo juga membakar ban di Ramallah. Bentrokan ini menyebabkan puluhan orang menderita luka ringan. Sedangkan di Bethlehem, tentara Israel menembakkan meriam air dan gas air mata kepada para pendemo. Sedangkan di Gaza, pendemo terlihat membakar poster Trump dan juga poster Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sebagai bentuk kekecewaan, para pendemo juga membakar bendera Amerika Serikat dan Israel.

VOA News mengungkapkan bahwa dalam aksi mogok, warga Palestina juga menutup sementara sekolah dan toko. Di sisi lain, pimpinan kelompok militan Hamas Ismail Haniyeh juga menyerukan pemberontakan bersenjata ketiga untuk melawan Israel.

Akibat merebaknya protes di beberapa wilayah, pemerintah Israel memutuskan untuk memperkuat pasukan keamana di tiga wilayah. Ketiga wilayah tersebut adalah Tepi Barat, Yerusalem Timur dan perbatasan Gaza.

Pernyataan sepihak Trump yang menyatakan Yaerusalem sebagai ibu kota Israel tak hanya mengusik warga Palestina. Pernyataan Trump juga memancing kemarahan Arab dan berbagai negara Muslim maupun negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Pernyataan kontroversial ini juga menimbulkan kekhawatiran pada sekutu-sekutu Amerika Serikat.

"Tarik kembali keputusan tersebut demi menghentikan risiko berbahaya yang dapat berujung pada ekstrimisme dan menciptakan suasana yang menguntungkan terorisme," tegas Perdana Menteri Irak Haider Al Abadi saat menyikapi tindakan Trump seperti dilansir VOA News.

Penentangan juga datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Melalui akun Twitter pribadinya, Macron menegaskan bahwa Prancis tidak menyetujui pernyataan Trump terkait Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Macron mengatakan status Yerusalem seharusnya diputuskan dalam dialog yang melibatkan Palestina dan Israel.

"Saya tidak menjadi bagian dari pendapat (Trump) ini, dan saya tidak menyetujuinya," terang Macron.