Kamis , 07 Desember 2017, 20:50 WIB

Din: Indonesia tidak Cukup Kutuk Keras, Tapi Tolak

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agus Yulianto
Republika/Iman Firmansyah
Menjelaskan.  Utusan Khusus Presiden Din Syamsudin dalam audiensi yang  bertempat di kantor Utusan Khusus Presiden, Jakarta, Jumat (10/11).
Menjelaskan. Utusan Khusus Presiden Din Syamsudin dalam audiensi yang bertempat di kantor Utusan Khusus Presiden, Jakarta, Jumat (10/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin menilai, tidak cukup Indonesia hanya mengutuk keras keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal pengakuan secara sepihak Yerusalem menjadi ibu kota Israel. Sebab, keputusan Trump merupakan bentuk agresi invasi negara luar terhadap Yerusalem yang selama ini masih diperebutkan dan bentuk provokasi dari upaya perdamaian di wilayah tersebut.

"Saya kira ini dunia internasional termasuk PBB harus menyatakan ini tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Keputusan ini harus kita tolak, lebih dari sekedar kita kutuk sekeras-kerasnya," ujar Din usai menjadi keynote speaker di Konferensi tentang Palestina di Gedung Nusantara V, Komplkes Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis (7/12).
 
Sebab, menuut Din, keputusan tersebut akan mengganggu proses perdamaian yang sudah berlangsung dan terus diupayakan negara-negara lain. Tak hanya itu, keputusan Trump juga merusak upaya berbagai pihak yang tengah mencari penyelesaian kedua negara tersebut.
 
"Saya kira sedang dibahas opsi-opsi (penyelesaian) tadi yang bersifat moderat sebagai solusi tiba-tiba Presiden AS secara sepihak aksi Donal trump ini sangat-sangat sepihak," kata Din
 
Din mengatakan, Pemerintah Indonesia sejak dahulu hingga sekarang tegas mendukung kemerdekaan bagi Palestina. Pemerintahan Joko Widodo-JK juga sudah mengecam keras keputusan Trump tersebut.
 
Bahkan, Din memuji sikap Menteri Luar negeri Retno Marsudi yang menunjukkan sikap solidaritas kepasa Palestina dalam forum Bali Democracy Forum (BDF) ke-10 di Serpong, Tangerang, Banten hari ini dengan menggunakan syal berlambang Palestina.
 
"Menlu RI Ibu Retno dengan memakai selempang Palestina pada kalimat pertama sebelum yang lain, sengaja memakai ini sebagai bentuk solidaritas dan dukungan Indonesia pada perjuangan rakyat Palestina, dan langsung beliau mengatakan sikap Pemerintah RI yang mengecam keputusan Donal Trump dan ditambah dengan alasan bahwa itu semacam keputusan yang tidak demokratis," ujar Din.
 
Din pun menilai, konflik Israel Palestina yang tak kunjung selesai juga dikarenakan ada campur tangan dan standar ganda dari Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya. "Saya kira apa yang selama ini diduga duga kalau banyak pihak di dunia ini bahwa masalah atau konflik Israel Palestina nggak selesai-selesai adalah karena adanya standar ganda dari AS dan negara besar di dunia," katanya.
 
"Sekarang ditambah satu sikap yang sepihak ini membuktikan dugaan tadi.  Jadi , rupanya disengaja untuk tidak diselesaikan dengan baik secara berkeadilan," ujarnya.