Kamis , 07 Desember 2017, 15:20 WIB

Yerusalem, Kota dalam Pusaran Konflik Politik dan Agama

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto
Oded Balilty/AP
Suasana Dome of The Rock di kompleks Al Aqsa, Yerusalem, Palestina beberapa waktu lalu. Pejabat senior Pemerintahan Trump mengabarkan Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya ke kota tua ini.
Suasana Dome of The Rock di kompleks Al Aqsa, Yerusalem, Palestina beberapa waktu lalu. Pejabat senior Pemerintahan Trump mengabarkan Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya ke kota tua ini.

REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada Rabu (6/12) lalu. Sebuah langkah yang dinilai akan meningkatkan preseden dan bertentangan dengan konsesus internasional. Kota Yerusalem dihormati oleh agama-agama besar. Namun, kota ini terjerembab dalam pusaran perselisihan politik dan juga agama. Hingga saat ini, Yerusalem menjadi kota yang diperselisihkan oleh Israel dan Palestina.

Dilansir dari Khaleej Times, Kamis (7/12), kaum Yahudi Israel menganggap Yerusalem sebagai ibukota mereka sejak 3000 tahun yang lalu. Tembok Barat di Yerusalem adalah salah satu sisa terakhir dari Kuil Yahudi kedua, yang dihancurkan oleh orang Romawi pada tahun 70 masehi.

Sementara itu, penduduk Palestina mengklaim Yerusalem timur sebagai ibukota dari negara yang mereka cita-citakan. Penduduk Palestina membentuk sepertiga dari populasi kota yang modern, yakni sebesar 882 ribu jiwa.

Kota Yerusalem sendiri memiliki makna religius yang besar bagi umat Islam. Karena di sanalah, Masjid Al Aqsa, arah kiblat pertama umat Islam, berdiri. Di Yerusalem pula, ada bangunan bernama Dome of The Rock (Kubah Batu). Bangunan dengan kubah yang dilapisi emas dan berbentuk persegi delapan, yang dibangun pada masa Umayyah, antara 691 dan 715 Masehi. Dalam beberapa tahun terakhir, Palestina sendiri telah terpecah-pecah antara kelompok Fatah (pimpinan Mahmoud Abbas) dan Hamas. Sementara Yerusalem tetap menjadi salah satu titik perkumpulan yang paling kuat.

Yerusalem juga merupakan rumah bagi situs-situs suci kaum Kristiani. Termasuk, Gereja Makam Suci, yang dibangun di atas tempat di mana sebagian besar kaum Kristen percaya bahwa yesus telah disalibkan dan dikuburkan.

Sebuah perencanaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1947 telah menetapkan pembagian Palestina yang dikuasai Inggris ke dalam tiga entitas yang terpisah. Mereka di antaranya sebuah negara Yahudi, negara Arab, dan sebuah daerah kantong terpisah atau disebut 'korpus separatum'. Daerah kantong terpisah itu terdiri dari Yerusalem, wilayah dekat Bethlehem, dan tempat-tempat suci di sekitarnya yang berada di bawah kontrol PBB. Proposal tersebut kemudian diterima oleh para pemimpin Zionis. Namun, ditolak oleh masyarakat Arab.

Setelah kepergian Inggris pada 1948, kaum Yahudi kemudian mendeklarasikan negara merdeka Israel. Keputusan Yahudi itu kemudian memunculkan perang dengan kaum Palestina dan negara-negara Arab lainnya.

Pada akhir perang, Yerusalem timur berada di tangan Yordania. Sementara negara Yahudi yang baru mendirikan ibukotanya di wilayah barat. Kedua wilayah itu dipisahkan oleh kawat berduri, karung pasir, dan tempat senjata meriam hingga Perang Enam Hari berlangsung pada 1967. Saat itu, Israel menguasai dan menduduki zona timur.

Israel menyatakan bahwa seluruh kota sebagai ibukota kesatuan dan abadi. Pada 1980, Israel mencaplok Yerusalem timur. Langkah itu tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Hingga pencaplokan terjadi, 13 negara mempertahankan kedutaan mereka di Yerusalem. Mereka di antaranya, Bolivia, Cile, Kolombia, Kosta Rika, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Guatemala, Haiti, Belanda, Panama, Uruguay dan Venezuela. Seluruh kedutaan tersebut kemudian pindah ke Tel Aviv. Kosta Rika dan El Salvador kembali ke Yerusalem pada 1984. Namun, keduanya kemudian kembali ke Tel Aviv pada 2006.