Kamis , 07 December 2017, 12:45 WIB

Warga Palestina di Yordania Protes Keputusan Trump

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah
AP/Alex Brandon
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hal ini disampaikannya di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (6/12) waktu setempat atau Kamis (7/12) WIB.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hal ini disampaikannya di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (6/12) waktu setempat atau Kamis (7/12) WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Aksi protes dilakukan di daerah ibu kota Yordania, Amman yang didiami pengungsi Palestina. Aksi ini sebagai tanggapan atas pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pemuda meneriakkan slogan anti-Amerika di Amman, sementara di kamp pengungsi Baqaa di pinggiran kota, ratusan pemuda berkeliaran di jalanan mengutuk Trump dan meminta pemerintah Yordania membatalkan perjanjian damai 1994 dengan Israel.

"Terkutuklah Amerika. Amerika adalah biang teror," ujar teriakan para pengunjuk rasa.

Keturunan Raja Abdullah Hashemite adalah penjaga tempat suci umat Islam di Yerusalem. Hal ini membuat Amman sensitif terhadap perubahan status kota tersebut, yang sektor timurnya direbut oleh Israel dari Yordania dalam perang 1967. Banyak orang di Yordania adalah keturunan pengungsi Palestina yang keluarganya pergi setelah pembentukan negara Israel pada 1948.

Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan ini membahayakan upaya perdamaian Timur Tengah dan mengganggu dunia Arab dan sekutu Barat.

Trump mengumumkan pemerintahannya akan memulai proses pemindahan kedutaan AS di Tel Aviv ke Yerusalem.

Status Yerusalem - tempat tinggal suci umat Islam, Yahudi dan Kristen - merupakan salah satu hambatan terbesar untuk mencapai kesepakatan damai antara Israel dan Palestina.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji langkah Trump. Ia mengatakan keputusan Trump merupakan peristiwa penting dalam sejarah.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Amerika Serikat melepaskan perannya sebagai mediator dalam upaya perdamaian. Faksi sekuler Palestina dan faksi Islam menyerukan demonstrasi umum pada Kamis untuk melakukan demonstrasi.

Masyarakat internasional juga tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh kota. Mereka meyakini statusnya harus diselesaikan dalam negosiasi. Tidak ada negara lain yang memiliki kedutaan besarnya di Yerusalem. Selama ini urusan diplomatik berpusat di Tel Aviv.

Eropa Kecam Keputusan Trump Akui Yerusalem Milik Israel

 

Sumber : Reuters