Kamis , 07 December 2017, 03:45 WIB

Pence: Trump adalah Lelaki yang Berkomitmen Terhadap Janji

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Reiny Dwinanda
AP Photo / Evan Vucci
Presiden Donald Trump, didampingi oleh Wakil Presiden Mike Pence, memegang sebuah dokumen proklamasi yang ditandatanganinya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu (6/12), di Washington.
Presiden Donald Trump, didampingi oleh Wakil Presiden Mike Pence, memegang sebuah dokumen proklamasi yang ditandatanganinya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu (6/12), di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence angkat suara terkait kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Rabu (6/12) waktu setempat. 

Melalui akun Twitter resminya (@VP), Pence menyampaika ndukungannya.

"Hari ini, Presiden kita telah mengambil langkah bersejarah yang memberikan kepastian bahwa Amerika berdiri bersama sekutunya, terutama untuk sekutu yang kami pedulikan, Israel," cicitnya.

Pence menuturkan, keputusan Trump merupakan langkah besar setelah bertahun-tahun presiden Amerika terdahulu tidak melakukan tindakan pasti, terutama dalam hal pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Trump, menurut Pence, merupakan sosok lelaki yang menjaga ucapan dan berkomitmen untuk menunaikan janjinya kepada masyarakat Amerika. 

"Dan, dunia sudah melihatnya hari ini. Presiden berkomitmen terhadap perdamaian, baik di Timur Tengah maupun di cakupan yang lebih luas," ujarnya.

Dukungan juga terdengar dari Senator Partai Republik Lindsey Graham yang turut menyuarakannya melalui akun resmi Twitter-nya (@LindseyGrahamSC). 

Graham mendukung penuh kebijakan Trump untuk memberikan pengakuan yang sudah dinantikan hingga 3.000 tahun oleh Israel.

"Mengapa kebijakan Trump memutuskan untuk mendeklarasikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel? Karena akan selalu dan sudah seharusnya seperti itu. Akhirnya, keputusan yang diumumkan hari ini tidak mengambil opsi lain mengenai solusi dua negara," tutur Graham.