Selasa , 12 Agustus 2014, 07:51 WIB

Alasan Ini yang Jadikan Israel Serang Jalur Gaza

Rep: Harun Husein/ Red: Erik Purnama Putra
AP Photo
Tentara Israel di Jalur Gaza.
Tentara Israel di Jalur Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Musa al-Gharbi, peneliti The Southwest Initiative for the Study of Middle East Con flicts (SISMEC), mengatakan semula banyak pihak menduga Hamas lah yang memicu perang kali ini, karena menem bakkan roket ke Israel.

Apalagi, Presiden AS, Barack Obama pun telah mengafirmasi langkah Israel, bahwa operasi militer ke Gaza memiliki legitimasi untuk membela diri (self defence) dari serangan roket. Na mun, dia menilai narasi tersebut problematis.

Dalam tulisannya, Israel, Not Hamas, Orchestrated The Latest Conflict In Gaza, di laman Aljazeera, Musa mengajak melihat rangkaian peristiwa tersebut sejak awal, sehingga bisa menemukan di mana letak masalahnya.

Dan, dia menunjuk peristiwa penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel, menjadi pintunya. Kasus itu digunakan untuk membangkitkan senti menanti-Arab di kalangan rakyat Israel serta memprovokasi Hamas untuk mem buka konflik baru.

Setelah tiga remaja Israel itu dikuburkan, lanjut Musa, sejumlah warga Israel kemudian menghajar dan membakar sampai mati seorang remaja Palestina, Muhammad Abu Khdeir (16). Insiden ini berlanjut dengan pembunuhan brutal remaja Palestina lainnya, Tariq Khdeir (15), oleh militer Israel. Muhammad dan Tariq adalah sepupu.

Fakta lainnya, tutur Musa, beberapa jam setelah tiga remaja Israel itu diculik, para pejabat Israel mengaku telah mengetahui bahwa ketiganya telah tewas. Meski demikian, Israel tetap melakukan Operasi Brother Keeper di Tepi Barat. Ini merupakan ‘operasi penyelamatan palsu’, sedangkan target sebenarnya adalah para pemimpin Hamas di Tepi Barat.

Fakta lainnya, meski sudah tahu ketiga remaja tersebut telah tewas, pemerintah Israel tetap mengirim ibu-ibu ketiga remaja itu untuk menemui Dewan HAM PBB, meminta agar ketiga remaja itu diselamat kan. Langkah ini dilakukan untuk membangkitkan simpati dunia.

“Ini adalah eksploitasi yang sinis terhadap tragedi, yang dilakukan untuk membangkitkan kemarahan publik, dan mengadang Hamas. Israel telah sejak awal mengidentifikasi bahwa Hamas maupun sayap militernya tidak terlibat dalam penculikan. Meski demikian Israel tetap melakukan operasi di Tepi Barat dan Gaza.”

Adanya desain sejak awal, juga terlihat ketika pada pertengahan Juni lalu, Israel tiba-tiba memindahkan baterai-baterai Iron Dome-nya ke selatan Israel (dekat Jalur Gaza). PM Netanyahu juga mengajak Presiden Mahmud Abbas untuk mem batalkan pemerintahan bersama dengan Hamas. Sementara itu, militer Israel mulai memanggil pasukan cadangannya untuk serangan darat.

“Semua provokasi ini dilakukan beberapa pekan sebelum Hamas menem bakkan roket pertamanya ke Israel. Jadi, tak seperti yang diklaim Obama dan media Barat, dalam kasus ini Hamas lah yang melakukan aksi self defence. Israel yang mencari perang ini, dan Hamas mem berikannya kepada mereka,” kata Musa.

Abdallah Schleifer, jurnalis veteran AS di Timur Tengah, menulis al-Arabiya bahwa target Israel sesungguhnya adalah merusak pemerintahan bersatu Fatah-Hamas.

Dalam tulisannya, Why is Inter national Media Changing Sides on the Gaza Crisis?, Abdallah yang juga profesor emeritus di American University di Kairo menyatakan, “Berbagai upaya Netanyahu dilakukan untuk memprovokasi agar terjadi serangan roket dari Hamas, sehingga bisa memulai perang. Tampaknya, ini dimaksudkan untuk menghancurkan pemerintahan bersatu Fatah-Hamas.”

Banyak pihak yang menyambut peme rintahan bersatu ini, termasuk Ame rika Serikat. Maka, Abdallah mengatakan, dengan gempurannya ke Gaza kali ini, Netanyahu seakan meledek Amerika yang telah menyatakan akan bekerja sama dengan pemerintahan bersatu Palestina itu, alih-alih mensabotasenya.

Abdallah mengatakan pemerintahan bersatu Fatah-Hamas yang berkomitmen pada solusi dua negara (two state solution), memang akan akan membuat posisi Palestina lebih kuat dalam berbagai negosiasi perdamaian dengan Israel. Dan, ketika pembicaraan damai itu dilakukan, maka pembukaan blokade atas Gaza, akan menjadi salah satu topik utama negosiasi.

Jika dibaca lebih ke belakang, hampir semua upaya rekonsiliasi Hamas-Fatah, dikecam oleh Netanyahu. Baik yang terjadi di Kairo, Doha, hingga Gaza City. Meski berbagai pihak, termasuk AS, Uni Eropa, PBB, Rusia, Cina, dan lain-lain selalu menyambut rekonsiliasi Fatah-Hamas, pemerintahan bersatu Palestina, dan rencana menggelar pemilu.

Namun, berulangkali Netanyahu mengatakan Israel tidak mung kin bekerja sama dengan pemerintahan yang di dalamnya ada Hamas, karena Hamas adalah teroris. Tampaknya, Israel memang tak akan membiarkan Palestina bersatu. Seperti penjajah-penjajah lainnya, dia harus menerapkan politik pecah belah, devide et impera.

Setiap kali Hamas-Fatah melakukan langkah rekonsiliasi, baik di Yaman, Mesir, Doha, hingga Gaza City, tak lama kemudian Israel menggempur Gaza (Perjuangan Palestina: Intifada, Roket, dan Surat Suara). Semoga rekonsiliasi Hamas- Fatah kali ini tak hancur oleh gempuran mesin perang Israel.