REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Sekolah 'Cain and Abel School for Prophet' yang memberikan gelar 'nabi' kepada para lulusannya, dihujat sejumlah umat Yahudi.
Profesor pemikir Yahudi Universitas Ibrani Hebrew, Yerusalem Rachel Elior mempertanyakan bagaimana orang biasa menjadi nabi, dan siapapun dapat belajar menjadi nabi.
"Tidak ada cara untuk mengajarkan kenabian, ini seperti membuka sekolah untuk menjadi Einstein atau Mozart," kata Elior seperti dinukil dari AP.
Menurut kepercayaan Yahudi, tidak ada nabi sejak pasukan Romawi menghancurkan Solomon Temple kedua di Yerusalem. Dan era kenabian hanya akan dihidupkan kembali ketika Messias datang dan Solomon Temple kembali berdiri.
Kelas perdana sekolah tersebut dibuka bulan ini. Sebanyak 12 siswa dari usia 18 sampai 50 tahun mendaftar di sekolah tersebut. (baca: Di Israel Ada Sekolah untuk Jadi Nabi).
Satu-satunya guru di sekolah tersebut, Shmuel Hapartzy tidak memiliki latar belakang agama Yahudi yang kuat. Pria 34 tahun itu adalah seorang insinyur perangkat lunak. Ia imigran Rusia, dan memiliki jenggot panjang. Sehari-hari, pria yang mengaku awalnya ateis alias tak mempercayai keberadaan Tuhan itu mengenakan pakaian hitam ala Yahudi ultra-Ortodoks.
Hapartzy pernah mempelajari mistisisme, filsafat Cina, astrologi, ilmu hitam dan sekte Kristen. Sampai akhirnya ia berpaling ke Yudaisme.
Namun, sejumlah kalangan di Israel menghujat sekolah tersebut. Bahkan mereka menuding sekolah itu hanya penipuan.
Yang menarik, siswa sekolah itu juga tidak yakin, setelah lulus mereka bakal menjadi seorang nabi. Apalagi Yahudi tidak mempercayai sejumlah orang yang mengaku-ngaku nabi.
Seorang siswa, Darya Popdinitz mengakui pengetahuannya tentang nabi alkitab terbatas. Karenanya, ia penasaran mengikuti kelas singkat di sekolah tersebut.
Siswa lainnya, Roie Greenvald, (27) yang merupakan seorang instruktur tenis tak yakin kebenaran sekolah tersebut. "Aku tidak akan menjadi seorang nabi," kata Greenvald.