Jumat, 25 Mei 2012, 08:18 WIB

Tolak Imigran Afrika, Demo di Israel Ricuh

Rep: Gita Amanda/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
DPA
Komunitas imigran Afrika di Israel
Komunitas imigran Afrika di Israel

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV- Kekerasan pecah saat sekitar 200 warga Israel melakukan demo menentang keberadaan komunitas imigran Afrika. Mereka meminta para imigran kulit hitam tersebut untuk segera meninggalkan Israel.

Juru bicara kepolisian setempat Luba Samri mengatakan, pihaknya telah menangkap lima demonstran yang dianggap sebagai biang keladi kerusuhan. Mereka ditangkap setelah demonstrasi yang dialakukan ratusan orang tersebut mengarah pada kekerasan.

Satu mobil milik imigran Afrika dibakar massa demonstran. Beruntung penumpang tak ikut diserang dan dilukai

Media setempat melaporkan, para demonstran meneriakan slogan anti-asing. Mereka juga meneriakan slogan seperti, " orang kulit hitam keluar" dan mencaci kelompok kiri "Hati penuh darah" karena membela para imigran.

Menurut laporan, dua demonstran juga melakukan penyerangan terhadap orang Afrika yang melintas. Mereka menghancurkan kaca depan beberapa mobil yang membawa orang Afrika.

Selama bertahun-tahun, warga Afrika melakukan migrasi dari Mesir ke Israel. Dalam catatan badan statistik nasional ada 52.487 imigran Afrika yang kini tinggal di Israel, tidak dibedakan antara pencari suaka dengan imigran alasan ekonomi. Sebagian besar mereka berasal dari Sudan dan Eritrea.

Beberapa tahun terakhir, banyak kejahatan muncul di selatan Tel Aviv. Beberapa ketegangan meletus disebabkan adanya sejumlah komunitas Afrika di wilayah tersebut.

Pada Ahad (20/5) lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, fenomena imigrasi ilegal dari Afrika merupakan masalah serius. Menurut dia mereka mengancam fondasi masyarakat Israel. Tak hanya itu mereka juga dianggap mengancam keamanan dan identitas nasional.

Seperti diketahui sebelumnya, Israel telah membangun tembok perbatasan dengan Mesir. Mereka juga membangun sebuah pusat penahanan di selatan Gurun Negev.

Sumber : Al Arabiya/The Jerusalem Post
loading...