Fatah-Hamas Bersatu, Israel Geram

Selasa, 07 Pebruari 2012, 06:51 WIB
Fatah-Hamas Bersatu, Israel Geram
Faksi gerakan Islam di Palestina: Hamas dan Fatah

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Presiden Palestina Mahmud Abbas telah memilih 'meninggalkan jalur perdamaian' jika ia melaksanakan perjanjian rekonsiliasi dengan Hamas yang ditandatangani Senin (6/2) kemarin.

Netanyahu menyampaikan peringatan itu tak lama setelah Abbas dan pemimpin Hamas Khaled Meshaal menandatangani perjanjian tersebut di Qatar, yang menetapkan presiden Palestina tersebut sebagai kepala pemerintah sementara yang akan mempersiapkan pemilihan umum tahun ini.

"Jika Abu Mazen (Abbas) melaksanakan apa yang ditandangani di Doha, ia memilih meninggalkan jalur perdamaian dan menyatukan dirinya dengan Hamas," kata Netanyahu pada pertemuan para menteri partai Likud kubunya.

Perjanjian Doha itu dicapai ketika kelompok-kelompok yang bersaing, Hamas dan Fatah, berusaha melaksanakan sebuah perjanjian rekonsiliasi yang ditandatangani pada Mei yang menetapkan pembentukan pemerintah sementara dan pemilihan umum dalam waktu setahun.

Israel mempertegas sikapnya menentang perjanjian itu dengan memperingatkan, Abbas tidak bisa rujuk dengan gerakan Hamas yang menguasai Gaza sambil melakukan perundingan dengan Israel.

"Saya telah mengatakan beberapa kali di masa silam bahwa pemerintah Palestina (yang dipimpin Abbas) harus memilih antara persekutuan dengan Hamas atau perdamaian dengan Israel. Hamas dan perdamaian tidak akan bisa bersama-sama," kata Netanyahu, Senin (6/2).

Hamas dan Fatah menandatangani sebuah perjanjian rekonsiliasi antara kedua pihak pada Mei 2011 namun hingga kini belum melaksanakannya. Perjanjian itu menetapkan pembentukan pemerintah sementara dari kalangan independen yang akan mempersiapkan pemilihan umum dalam waktu setahun.

Namun, perjanjian itu tidak pernah dilaksanakan dan kedua pihak mempermasalahkan susunan pemerintah sementara dan siapa yang akan memimpinnya.

Kubu Abbas yang berkuasa di Tepi Barat mengusulkan pemilu pada Januari untuk mengatasi masalah itu.Terakhir kali rakyat Palestina memberikan suara adalah dalam pemilihan umum parlemen pada 2006, dimana Hamas mencapai kemenangan besar.

Redaktur: Ramdhan Muhaimin
Sumber: ANTARA/AFP
Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa ia berthawaf sekali thawafan, lalu tidur siang di Mekah. Kemudian mendatangi Mina, yakni pada hari nahar. Dan di-rafa'-kan dalam suatu riwayat.[72](HR Bukhari)
abdullah el-khalil, Selasa, 7 Pebruari 2012, 17:40

Semoga ini adalah setitik cahaya yg dapat mengembalikan cahaya tanager Suci ke tiga itu

Balas
myself, Selasa, 7 Pebruari 2012, 17:18

Fatah-Hamas..kami dukung kputusn kalian tuk bersatu, coz memang itu yg dtakutkan kaum israel,"kaum islam dunia bersatu"...GANYANG ISRAEL

Balas
abu azhami, Selasa, 7 Pebruari 2012, 14:52

bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. kehancuran Israel adalah sebuah kepastian jika umat Islam bersatu!

1 Balasan
wawa elasyari, Minggu, 12 Pebruari 2012, 17:57

`izzul islam wal muslim, istiqlaalu lilpalestin

paus, Selasa, 7 Pebruari 2012, 14:39

LA MASYRIK WA LAA MAGHRIB WALAKIN ISLAAM.

1 Balasan
ikhsan fatah yasin, Rabu, 8 Pebruari 2012, 06:28

mantap gan..... innaa laysa hammas wa fatah wa sunni wa syiah wa nahdhotul ulama wa muhammadiyyah walakinna muslimiina

paus, Selasa, 7 Pebruari 2012, 14:36

Persatuan ummat adalah gerbang bencana bagi israel...bersiaplah untuk mengungsi wahai bangsa yg ga punya negri....

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...