
REPUBLIKA.CO.ID, Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah menilai perlawanan sebagai satu-satunya cara untuk membebaskan tanah Palestina dari pendudukan rezim Zionis Israel.
Berpidato di tengah puluhan ribu rakyat Palestina, yang berkumpul di Gaza City untuk menandai ulang tahun Hamas ke-24, Haniyah mengatakan pada Rabu (14/12) bahwa satu-satunya opsi yang tersisa untuk pembebasan wilayah Palestina adalah resistensi, karena cara lain, termasuk negosiasi, telah gagal.
"Kami menegaskan bahwa perlawanan adalah pilihan strategis kami dan satu-satunya cara untuk membebaskan tanah kami. Insya Allah, Hamas akan memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan sampai kita membebaskan seluruh Palestina," tegas Haniyah.
Pada kesempatan itu, Haniyah juga menggambarkan rekonsiliasi antara faksi-faksi Palestina dan kesepakatan pertukaran tahanan dengan Israel, sebagai dua kemenangan besar bagi bangsa Palestina, yang dicapai melalui perlawanan.
"Masalah pertukaran tawanan adalah pertempuran politik dan keamanan dengan musuh, di mana kami menang dengan membuat Israel tunduk pada kehendak rakyat Palestina," tutur Haniyah.
Dia juga menganggap Hamas sebagai bagian terkuat dari Palestina, yang telah berdiri melawan isolasi politik dan pengepungan Zionis. Ditambahkannya, Gaza dan Hamas adalah sumber inspirasi bagi Arab Spring.
Hamas, didirikan pada tanggal 14 Desember 1987, tak lama setelah dimulainya intifadhah pertama atau pemberontakan melawan pendudukan ilegal Israel atas tanah Palestina.
Iya hanya ada satu kata : LAWAN.
Balas