Monday, 5 Jumadil Awwal 1439 / 22 January 2018

Monday, 5 Jumadil Awwal 1439 / 22 January 2018

Cuaca Ekstrem di AS Diprediksi Hingga 10 Hari Mendatang

Senin 08 January 2018 13:44 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Winda Destiana Putri

Cuaca ekstrem (ilustrasi)

Cuaca ekstrem (ilustrasi)

Foto: Antara/Umarul Faruq

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kawasan Amerika Serikat mengalami musim dingin terparah dalam 100 tahun terakhir. Bahkan pada awal pekan ini, suhu di Jacksonville, Florida, lebih dingin ketimbang di Anchorage, Alaska. Menurut sejumlah ilmuwan, kondisi terjadi lantaran adanya angin dingin di Artic, yang mengarah ke selatan, tepatnya ke sekitar Pantai Timur AS.

Tidak hanya itu, fenomena bertiupnya angin dingin dari Artik ini akan terus terjadi dalam beberapa hari mendatang. Biasanya angin dingin ini akan terus berputar-putar di sekitar Kutub Utara. ''Namun, saat angin dingin tersebut melemah, hal itu menyebabkan angin tersebut bertiup ke selatan, seperti layaknya air yang menembus bendungan. Ini bukan rekor baru buat Kanada atau Alaska, tapi ini hanya salah tempat, yaitu di sekitar Amerika,'' tutur Peneliti Badai Dingin di Pusat Penelitian Lingkungan Atmosfer, Judah Cohen, seperti dikutip Daily Mail.

Berdasarkan prediksi dari sejumlah ahli metereologi, kondisi ini akan berlangsung dalam 10 hari mendatang. Musim dingin saat ini memang lebih dingin dibanding musim-musim dingin sebelumnya. Pada awal pekan ini, Kota Boston tercatat mengalami rekor suhu terdingin selama tujuh hari berturut-turut, di bawah 20 derajat celcius. Ini pertama kalinya terjadi di Boston dalam 100 tahun terakhir.

''Catatan ini pun mematahkan 1.600 catatan suhu selama satu pekan terakhir pada Desember. Statistik ini menunjukan, bagaimana rata-rata suhu terdingin terjadi pada sepanjan pekan lalu. Kota-kota seperti Minneapolis, Chicago, Detroit, dan Kansas City mengalami suhu terdingin sejak 100 tahun lalu. Sedangkan Pittsburgh berada di tempat ketiga terdingin, dan New York berada di tempat kelima terdingin,'' tutur perwakilan dari Pusat Prediksi Iklim dan Cuaca Nasional Amerika Serikat, Greg Carbin.

Kondisi ini pun hanya terjadi di Amerika Serikat. Padahal, beberapa lokasi di kawasan lain justru mengalami peningkatan suhu. Berdasarkan analisis dari Universitas Maine, ada peningkatan suhu sebesar 0,5 derajat celcius secara global. Sedangkan, Artik sebenarnya juga mengalami peningkatan suhu sebesar 3,4 derajat celcius, enam derajat dari suhu normal pada musim dingin di Artik.

Kondisi diperkirakan bakal terus terjadi, terutama di sepanjang Pantai Timur AS pada akhir pekan ini. Hal ini seiring dengan pergerakan badai salju yang diprediksi mengarah ke Samudera Atlantik dan Kepulauan Karibia. Kendati Pantai Timur AS tidak akan terkena badai, namun bagian Timur Laut Amerika Serikat akan tetap mengalami angin dingin dan badai salju. ''Di bagian Timur Laut, akhir pekan ini dapat menjadi akhir pekan terdingin ditambah dengan adanya badai,'' kata Profesor Meteorologi dari Universitas Oklahoma.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES