Sabtu, 3 Jumadil Awwal 1439 / 20 Januari 2018

Sabtu, 3 Jumadil Awwal 1439 / 20 Januari 2018

Turki Minta AS dan Israel tidak Meningkatkan Ketegangan

Ahad 31 Desember 2017 13:52 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: PA-EFE/KAYHAN OZER

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (30/12), mendesak pemerintah AS dan Israel tidak mengambil langkah-langkah yang akan meningkatkan ketegangan, terkait status Yerusalem.

Pernyataan presiden Turki disiarkan dalam pesan video selama pertemuan Islamic Circle of North America ke-16, yang merupakan Konvensi Masyarakat Muslim Amerika di Chicago, Illinois. Pertemuan tersebut merupakan salah satu pertemuan Muslim terbesar di Amerika Utara.

Erdogan menarik perhatian pada konflik dan gejolak global. Dia meminta dunia Muslim memahami kekuatan sesungguhnya dari negara-negara Muslim.

"Sudah saatnya dunia Muslim memahami kekuatannya yang sebenarnya. Kita tidak boleh membiarkan seseorang membagi kita berdasarkan perbedaan etnis, sektarian atau budaya," kata Erdogan seperti yang dilansir di Anadolu Agency, Ahad (31/12).

Dia mengatakan, politik global, ekonomi dan pergolakan diplomatik terjadi di sebagian besar dunia Muslim. Sementara, katanya, juga mencoba untuk menemukan solusi bagi dunia Muslim, dan juga menghadapi masalah baru terutama dalam bangkitnya tragedi di wilayah-wilayah tertentu.

"Di sisi lain kita memiliki umat Muslim yang meluas dari Suriah, Irak, Yaman dan Somalia yang berjuang melawan konflik, teror, kelaparan dan kemiskinan, sementara pada saat bersamaan negara-negara ini juga harus berjuang melawan bangkitnya Islamofobia dan diskriminasi budaya yang meningkat di negara-negara Barat," tambahnya.

Mengutip 'politik diskriminatif' yang digunakan sebagai alat dalam pemungutan suara, Erdogan menegaskan, hal yang lebih buruk lagi dari situasi tersebut adalah jenis ketidakpedulian yang ditunjukkan. "Banyak politikus Barat dan anggota media sebenarnya bermain burung unta saat datang ke tren diskriminatif dan membenci kejahatan terhadap minoritas," katanya.

Dia lebih lanjut meminta Muslim Amerika yang secara politis, sosial dan masyarakat sipil secara bijaksana untuk mendukung perjuangan Turki. Dimana saat ini ada upaya yang bertujuan menciptakan konflik batin dan penghancuran perdamaian semua masyarakat dalam konteks standar yang ganda.

Yerusalem 'terlalu berharga'

Mengenai resolusi PBB baru-baru ini terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Erdogan mengatakan, "Kemenangan yang kita dapatkan atas masalah Yerusalem adalah indikator dari banyak hal yang dapat kita capai bersama melalui solidaritas. Ini Kemenangan sekaligus menunjukkan kepada dunia ada nilai yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pemerasan dan ancaman sebelum pemungutan suara sia-sia," tambahnya.

Di hadapan 128 negara, kata Erdogan, seluruh dunia mengklaim untuk mendukung perlindungan status historis dan kesucian Yerusalem. "(Langkah) Itu akan meningkatkan ketegangan karena Yerusalem terlalu berharga untuk menjadi pengorbanan demi kepentingan kita sendiri," katanya

Ia sekali lagi menegaskan Yerusalem merupakan garis merah semua umat Muslim, dan ia meminta umat Islam tidak mengizinkan siapa pun membagi umat Muslim berdasarkan perbedaan etnis, sektarian atau budaya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika Setiap Minggunya

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES