Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Vokalis U2, Bono, Minta Suu Kyi Mundur

Jumat 29 December 2017 11:47 WIB

Rep: Crystal L Purnama/ Red: Indira Rezkisari

Bono, vokalis U2

Bono, vokalis U2

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Vokalis utama grup musik rock U2, Bono, meminta Aung San Suu Kyi mengundurkan diri dari jabatannya setelah kampanye mematikan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya. Dia juga merupakan juru kampanye Suu Kyi untuk menjadi pemimpin de facto Myanmar saat masih berada di bawah tahanan rumah.

Bono yang memiliki nama asli Paul David Hewson memperjuangkan Suu Kyi lewat lagunya Walk On. Saat di panggung secara langsung dia meminta penggemarnya memakai topeng bergambar wajah dari oposisi Suu Kyi, lalu mengatakan bahwa dia merasa mual oleh gambar pertumpahan darah dan krisis pengungsi.

"Saya benar-benar merasa sakit, karena saya tidak bisa mempercayai apa yang ditunjukkan semua bukti. Tapi ada pembersihan etnis," katanya kepada majalah Rolling Stone dalam terbitan terbarunya. Itu benar-benar terjadi dan dia harus mengundurkan diri karena dia mengetahui ini terjadi.

Menekankan ucapannya dalam wawancara yang dilakukan oleh pendiri Rolling Stone Jann Wenner, Bono mengatakan sebaiknya dia paling tidak harus mengajak bicara lebih banyak lagi. Dan jika orang-orang tidak mendengarkan, maka mundurlah.

PBB dan juga Amerika Serikat (AS) telah menyebut kampanye oleh militer Myanmar terhadap etnis yang tidak memiliki kewarganegaraan dan mayoritas Muslim itu sebagai pembersihan etnis. Sebuah organisasi relawan kesehatan Doctor Without Borders menyebutkan bahwa setidaknya 6.700 orang Rohingya tewas dalam bulan pertama penyisiran di desa-desa yang diluncurkan untuk menanggapi serangan pemberontak. Sedangkan 65 lainnya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Suu Kyi yang meraih penghargaan Nobel pada 1991 itu mendapatkan dukungan dari banyak pihak setelah menghabiskan dua dekade di bawah tahanan rumah atas perintah pemerintah militer Myanmar. Peralihan Myanmar ke demokrasi dan naiknya Suu Kyi sebagai pemimpin de facto Myanmar pada tahun lalu pada awalnya membuat senang para pegiat hak asasi manusia, namun sejaak saat itu mereka marah dengan sikap diamnya dalam menangani kampanye kekerasan anti-Rohingya tersebut.

Beberapa ahli meyakini Suu Kyi telah membuat keputusan yang diperhitungkan untuk tidak mengambil risiko politik, dia takut jika saat membicarakan soal Rohingya dia akan dihina habis-habisan di Myanmar yang mayoritas beragaman Buddha, dan bagaimanapun juga dia tidak mengendalikan militer.

"Mungkin karena dia tidak ingin kehilangan negara kembali ke tangan militer, tapi dia sudah mengerti, foto-foto itu adalah apa yang kita yakini," ujar Bono mencoba memperkirakan pemikiran Suu Kyi. Dan pada awal bulan ini, kampung halaman Bono, Dublin mencabut penghargaan kota yang diberikan kepada Suu Kyi untuk memprotes kampanye kekerasan tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES