Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Cina Blokir 13 Ribu Situs Dunia Maya

Ahad 24 December 2017 19:09 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ani Nursalikah

Bendera Cina

Bendera Cina

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah Cina menutup lebih dari 13 ribu situs online sejak awal 2015 lalu. Pemberhentian akses tersebut dilakukan lantaran website tersebut dinilai telah melanggar hukum atau aturan lainya.

Cina merupakan salah satu negara yang memperketat akses internet, terlebih saat dibawah pimpinan Presiden Xi jinping. Kendati, upaya pemerintah membersihkan dunia maya itu mendapat dukungan dari masyarakat.

 

Pemerintah Cina mengatakan, penutupan akses itu dilakukan terhadap situs-situs yang memuat konten pornografi dan kekerasan. Terlebih, hal itu juga dilakukan untuk menjaga stabilitas nasional dan sosial.

 

Tak hanya menutup belasan ribu situs, otoritas Negeri Tirai Bambu juga mengunci 10 ribu akun dalam website tertentu. Meski tidak merinci penjelasan lebih lanjut, namun sebagian besar akun yang dimatikan itu ada di platform media sosial.

 

"Keamanan internet menyangkut ketahanan kekuasaan partai di masa depan, perdamaian dan stabilitas negara dalam jangka panjang dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat," kata Wakil Ketua Parlemen Cina Wang Shengjun kepada Xinhua, Ahad (24/12).

 

Data yang dirilis Xinhua menyebutkan, 90 persen warga mendukung langkah pemerintah mengelola dunia maya. Sementara, 63,5 persen dari warga percaya konten berbahaya di internet sudah berkurang dalam beberapa tahun belakangan.

 

Data juga mengungkapkan dalam lima tahun terakhir lebih dari 10 juta orang yang menolak mendaftar menggunakan nama asli untuk memiliki akun tertentu telah diblokir. Hal itu berlaku dalam dunia maya atau akun telekomuniksi bagi warga. Otoritas dan pengelola dunia maya Cina juga telah memanggil lebih dari 2.200 operator situs.

 

Cina diketahui memperketat penggunaan akses internet terhadap warganya. Negara tersebut bahkan memblokir akses ke berbagai portal berita asing, sosial media hingga mesin pencari, termasuk Google dan Facebook.

 

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES