Selasa, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Selasa, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Mantan Karyawan Twitter Akui Tutup Akun Trump tanpa Sengaja

Selasa 12 Desember 2017 17:34 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Winda Destiana Putri

Twitter

Twitter

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, FRANKFURT - Mantan karyawan kontrak Twitter, Bahtiyar Duysak (28 tahun), mengaku menutup akun Twitter resmi Presiden AS Donald Trump tanpa sengaja. Pada 2 November lalu, akun Trump, @realDonaldTrump, yang memiliki 44 juta pengikut, mati selama 11 menit.

"Saya mengklik beberapa hal yang salah yang seharusnya tidak saya lakukan," ujar Duysak dalam sebuah wawancara di Frankfurt, Jerman, Senin (11/12).

 

Hari saat akun Trump non-aktif sementara, merupakan hari terakhir Duysak menjadi karyawan Twitter. Di perusahaan jejaring sosial itu, ia telah menyelesaikan kontrak kerja selama enam bulan.

 

Duysak mengatakan, dia tidak memperhatikan saat keluhan datang sejam sebelum dia meninggalkan kantor Twitter di San Francisco untuk terakhir kalinya. Ketika itu dia pikir dia sedang berurusan dengan salah satu dari banyak akun palsu Trump.

 

"Anda harus selalu memeriksa ulang segalanya sebelum melakukan tindakan," kata Duysak

 

Meski demikian, Duysak mengaku ia tidak memungkiri Trump telah menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Ada beberapa pelanggaran peraturan Twitter yang dilakukan Trump, seperti meretweet video anti-Islam dari kelompok sayap kanan Inggris.

 

"Anda tidak perlu menjadi ahli untuk memahami bahwa telah terjadi pelanggaran kebijakan. Peraturan tersebut dipatahkan dan ini bisa menyebabkan kebencian menyebar," ungkap Duysak.

 

Twitter secara resmi mengatakan telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah terjadinya insiden semacam itu lagi. Namun perusahaan itu belum mengkonfirmasi apakah Duysak adalah seorang mantan karyawan yang bertanggung jawab.

 

Twitter menolak untuk memberikan komentar setelah dihubungi Reuters. Gedung Putih juga tidak menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.

 

Setelah bertugas di Youtube dan Google, Duysak bergabung dengan Twitter sebagai agen operasi kebijakan keselamatan pada 24 Juli. Pekerjaan itu melibatkan pengecekan pelanggaran peraturan Twitter yang tidak dapat ditangani oleh sistem komputer otomatisnya.

 

Duysak, yang lahir di Jerman dari keluarga asal Turki, meninggalkan AS beberapa hari setelah kejadian tersebut dan kembali ke kota asalnya di Paderborn. Dia mengatakan dia telah menyewa seorang pengacara yang berhubungan dengan FBI. Dia juga mengatakan, dia telah meminta maaf dan berdamai dengan Twitter, dilansir Reuters.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES