Rabu , 11 Oktober 2017, 18:28 WIB

Prokemerdekaan Katalan Kecewa Keputusan Puigdemont

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Elba Damhuri
AP/Felipe Dana
Aksi para pendukung kemerdekaan Katalunya berbaris dalam demonstrasi di pusat kota Barcelona.
Aksi para pendukung kemerdekaan Katalunya berbaris dalam demonstrasi di pusat kota Barcelona.

REPUBLIKA.CO.ID, KATALUNYA -- Warga prokemerdekaan Katalan mengaku kecewa atas sikap Pemimpin Katalunya Carles Puigdemont yang menunda pembacaan deklarasi kemerdekaan. Puigdemont lebih memilih berunding dengan pemerintah pusat dibandingkan melanjutkan upaya pemisahan diri dari Spanyol.

Hari ini warga pro-kemerdekaan berkumpul di Arc de Triomf di Barcelona untuk menentang sikap Puigdemont yang tidak konsisten. Arc de Triomf dalam bahasa Indonesia berarti Gerbang kemenangan. Bangunan monumental ini hampir serupa dengan Arc de Triomphe di Paris, Prancis.

Saat itu, massa menanti Puigdemont membacakan deklarasian kemerdekaan Katalunya melalui dua layar besar. Mereka berkerumun dibawah slogan bertuliskan' Hola Republica' atau 'Halo Republik'.

Kegembiraan terpancar dari para demonstran pro-kemerdekaan sembari berpikir kontribsi mereka terkait demokrasi. Tepuk tangan massa kerap terdengar menjelang pembacaan deklarasi tersebut.

Namun, semua keceriaan itu perlahan sirna sesaat setelah Puigdemont membacakan pidatonya. Kemerdekaan nyatanya tidak menjadi bagian dalam pidato tersebut. Negara baru Katalunya batal terbentuk.

Massa lantas meninggalkan kawasan Arc de Triomf. Kekecewaan menempel pada masing-masing diri massa penuntut kemerdekaan Katalunya, seperti Jordi Sanchez.

Pria yang menyaksikan pidato Puigdemont melalui layar besar itu tak bisa menyembunyikan frustrasinya menyusul keputusan tersebut. Secara spesifik, dia menyalahkan pemerintah Eropa lantaran tidak mendukung kebebasan Katalunya.

Kendati, pria 55 tahun agaknya mewajarkan langkah yang diambil Puigdemont. Dia sedikit banyak mengerti tekanan yang dirasakan Charles Puigdemont. Lagi pula, usaha saat ini adalah yang terdekat dengan kemerdekaan Katalunya sejak awal 1930an.

"Anda tidak bisa menciptakan sebuah negara dalam satu hari. Kita harus bersabar agar mendapatkan referendum yang mengikat seperti yang dilakukan Skotlandia," kata Puigdemont.

Maria Boras dan Gemma Freixer juga menyimpan kekecewaan serupa. Sejatinya mereka ingin melihat dan mendengar Puigdemont membacakan deklarasi kemerdekaan.

Setali tiga uang, Boras juga mewajarkan keputusan yang diambil Puigdemont. Dia mengatakan, langkah itu diambil untuk menghindar dari kemungkinan kekerasan kepolisian Madrid.

Mengingat hal tersebut, dia mengatakan kalau negosiasi menjadi upaya terbaik untuk mencapai kemerdekaan. Sedikit berbeda, Freixer yang mewakili suara kaum muda mengaku tak gentar dengan ancaman apapun yang mungkin muncul usai deklarasi.

Seperti diktahui, Puigdemont memutuskan untuk berunding dengan Pemerintah Spanyol. Dia tidak akan segera mendesak kemerdekaan dari Spanyol.

Kendati, Puigdemont mengatakan, referendum telah memberi mandat kepada pemerintahnya untuk menciptakan sebuah republik yang berdaulat. Dia menunda deklarasi selama beberapa pekan.

Sumber : Guardian