Senin , 09 October 2017, 14:15 WIB

Kapal Rohingya Terbalik, Korban Tewas Mayoritas Anak-Anak

Rep: Marniati/ Red: Nur Aini
AP/ Dar Yasin
Seorang wanita Muslim Rohingya Hanida Begum, yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh, sangat sedih saat memegang anak laki-lakinya, Abdul Masood yang meninggal saat kapal yang mereka tumpangi terbalik sebelum mencapai pantai Teluk Benggala, di Shah Porir Dwip, Bangladesh, Kamis (14/9).
Seorang wanita Muslim Rohingya Hanida Begum, yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh, sangat sedih saat memegang anak laki-lakinya, Abdul Masood yang meninggal saat kapal yang mereka tumpangi terbalik sebelum mencapai pantai Teluk Benggala, di Shah Porir Dwip, Bangladesh, Kamis (14/9).

REPUBLIKA.CO.ID, GALACHAR -- Sedikitnya 12 pengungsi Rohingya, kebanyakan anak-anak, tenggelam saat kapal mereka terbalik dalam perjalanan ke Bangladesh.

Pejabat Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) Abdul Jalil mengatakan kepada kantor berita AFP setidaknya 12 jenazah telah ditemukan setelah operasi penyelamatan sepanjang malam. Sepuluh di antaranya anak-anak, seorang wanita tua dan seorang pria.

Sedikitnya 13 warga Rohingya, termasuk tiga wanita dan dua anak, diselamatkan setelah melewati muara sungai Naf. Komandan penjaga pantai daerah Alauddin Nayan mengatakan kapal tersebut tenggelam di mulut sungai Naf dekat Shah Porir Dwip, di ujung selatan Bangladesh, dengan hampir 100 orang di dalamnya.

"Ini terbalik di dekat Galachar (desa pesisir di Bangladesh) dengan hampir 100 orang," kata Nayan kepada AFP.

Insiden ini merupakan peristiwa terbaru dari serangkaian bencana kapal mematikan yang melibatkan pengungsi Rohingya. Baru-baru ini, pada 28 September, sebuah kapal yang membawa sekitar 80 pengungsi terbalik. Sebanyak 17 pengungsi selamat, sementara 23 orang dipastikan tewas dan sisanya dinyatakan hilang.

Lebih dari setengah juta Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine utara dan ke Bangladesh sejak 25 Agustus. Myanmar telah menolak tuduhan pembersihan etnis, dengan mengatakan bahwa serangan militer tersebut merupakan operasi pembersihan untuk mengusir para militan Rohingya yang telah melakukan serangan terhadap pos-pos perbatasan pada bulan Agustus.

Lebih dari enam pekan setelah kekerasan tersebut, warga Rohingya terus tiba di Bangladesh. Myanmar menganggap imigran ilegal Rohingya dari Bangladesh meskipun mereka telah tinggal di sana selama beberapa generasi.