Kamis , 05 October 2017, 15:37 WIB

PBB: Pengungsi Rohingya Alami Trauma Parah

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Antara/Akbar Nugroho Gumay
Seorang anak pengungsi Rohingya diperiksa lukanya oleh tenaga medis di tenda kesehatan Indonesia, Kamp Pengungsian Jamtoli, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10).
Seorang anak pengungsi Rohingya diperiksa lukanya oleh tenaga medis di tenda kesehatan Indonesia, Kamp Pengungsian Jamtoli, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Organisasi kemanusiaan yang membantu pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh mengatakan mereka membutuhkan dana bantuan sebesar 434 juta dolar AS. Dana tersebut akan digunakan untuk menyediakan berbagai kebutuhan hidup bagi 800 ribu pengungsi Rohingya selama enam bulan ke depan.

Koordinator penduduk PBB di Bangladesh Robert Watkins mengatakan, hingga saat ini, walaupun bantuan kemanusiaan telah disalurkan dan didistribusikan, pengungsi Rohingya masih hidup dalam kondisi memprihatinkan.

"Populasi Rohingya di Cox's Bazar (Bangladesh) sangat rentan. Banyak yang mengalami trauma parah dan sekarang hidup dalam kondisi yang sangat sulit," ucapnya seperti dilaporkan laman the Guardian, Kamis (5/10).

Pada Senin (2/10), Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali telah menggelar pertemuan dengan menteri untuk kanselor negara Myanmar Kyaw Tint Swe di Dhaka. Keduanya membahas beberapa hal, terutama tentang pemulangan ratusan ribu pengungsi Rohingya di zona perbatasan Bangladesh ke Rakhine.

Setelah pertemuan tersebut, Ali mengatakan, Bangladesh dan Myanmar telah sepakat untuk membentuk sebuah kelompok kerja gabungan untuk memulai repatriasi besar-besaran.

Kendati demikian, Ali tidak membocorkan tentang bagaimana kelompok gabungan ini akan bekerja. Yang jelas, dia meminta Myanmar untuk menjamin keamanan dan keselamatan orang-orang Rohingya yang nantinya dipulangkan ke Rakhine.

PBB telah menyebut eksodus Rohingya ke Bangladesh sebagai krisis pengungsi terbesar dan paling mendesak di dunia. Menurut data PBB, sejak kekerasan pecah di Rakhine pada 25 Agustus, lebih dari setengah juta etnis Rohingya telah mengungsi ke Bangladesh.

Para pengungsi terpaksa hidup di tenda-tenda dan kemah darurat di perbatasan Bangladesh serta harus menghadapi keterbatasan suplai makanan. Hidup mereka telah sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan.