Senin , 02 Oktober 2017, 09:59 WIB

90 Persen Warga Katalan Ingin Merdeka dari Spanyol

Red: Teguh Firmansyah
EPA-EFE/XOAN REY
Orang-orang membentangkan bendera pro-kemerdekaan Katalunya dalam sebuah demonstrasi di Santiago de Compostela, Provinsi Galicia, Spanyol, Sabtu (30/9). Katalunya mengadakan referendum kemerdekaan pada Ahad (1/10), meski telah dilarang oleh Mahkamah Konstitusi Spanyol.
Orang-orang membentangkan bendera pro-kemerdekaan Katalunya dalam sebuah demonstrasi di Santiago de Compostela, Provinsi Galicia, Spanyol, Sabtu (30/9). Katalunya mengadakan referendum kemerdekaan pada Ahad (1/10), meski telah dilarang oleh Mahkamah Konstitusi Spanyol.

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Pemerintah Catalan menyebutkan 90 persen dari 2,26 juta warga Katalan memberikan suara pada Ahad dan memilih mendukung kemerdekaan.  Menurut pejabat setempat, 770 ribu suara hilang karena gangguan yang disebabkan oleh polisi Spanyol.

Seperti dilansir the guardian, Senin (2/10), Carles Puigdemont, pemimpin Katalan, mengumumkan dalam sebuah pernyataan di televisi bahwa wilayah tersebut telah mendapatkan hak untuk menjadi negara merdeka dan hasilnya akan disahkan parlemen daerah dalam beberapa hari mendatang.

Dalam sebuah konferensi pers sesaat sebelum Puigdemont, perdana menteri Spanyol Mariano Rajoy tak mengakui referendum Katalan. Ia pun menyalahkan kerusuhan yang terjadi akibat pemerintah Katalan.

Menurut departemen kesehatan Katalan, 761 orang terluka dalam kerusuhan tersebut. Dua orang terluka parah dan tetap berada di rumah sakit di Barcelona. Sedikitnya 10 petugas polisi dilaporkan terluka.

Pemimpin sosialis Pedro Snchez mendesak pemerintah Spanyol untuk bernegosiasi dengan Katalunya dan mengatakan bahwa pemimpin Spanyol dan Katalan telah gagal sejauh ini.

Pemimpin Buruh Inggris, Jeremy Corbyn, meminta Perdana Menteri Theresa May untuk campur tangan dan menemukan solusi politis terhadap krisis di Spanyol.

Berita Terkait