Selasa , 03 October 2017, 08:03 WIB

Myanmar Bersedia Terima Kembali Pengungsi Rohingya

Rep: Rizkyan adiyudha/ Red: Esthi Maharani
Antara/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah pengungsi Rohingya antri untuk mendapatkan paket makanan dari relawan Indonesia di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10).
Sejumlah pengungsi Rohingya antri untuk mendapatkan paket makanan dari relawan Indonesia di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Myanmar bersedia menerima kembali pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Bangladesh, AH Mahmood Ali usai mengadakan negosiasi dengan pejabat Myanmar, Kyaw Tint Swe di Dhaka.

"Pembicaraan berlangsung dengan atmosfir yang positif dan Myanmar memberikan proposan untuk menerima kembali pengungsi Rohingya," kata AH Mahmood Ali usai pertemuan seperti dilansir Aljazira, Rabu (3/10).

Ali mengatakan, kedua negara setuju untuk mengakhiri polemik tersbeut secara damai. Dia melanjutkan, kedua negara sepakat membentuk kelompok kerja gabungan untuk memulai pemulangan tersebut. Kendati, pejabat Myanmar enggan berkomentar usai pertemuan tersebut.

Sementara menurut data PBB, lebih dari setengah juta etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak kekerasan pecah di Rakhine pada 25 Agustus lalu. PBB mengatakan krisis Rohingya merupakan keadaan darurat pengungsi tercepat di dunia. Krisis perlakuan Myanmar terhadap Rohingya merupakan masalah terbesar pemimpin Aung San Suu Kyi sejak membentuk pemerintah. pada 2015 lalu. Suu Kyi berhasil memenangkan pemilihan pada akhir 2015 lalu.

Sebelumnya, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meminta agar disiapkan zona aman di Myanmar untuk memungkinkan para pengungsi kembali kedesanya masing-masing. Dia juga meminta agar misi pencari fakta PBB pergi ke Myanmar untuk menyelidiki penyebab gelombang pengungsi.

Myanmar mengatakan, serangan di utara negara bagian Rakhine itu sebagai tanggapan atas serangan terkoordinasi oleh pejuang Rohingya. Myanmar menyalahkan pemberontak atas serangan terhadap warga sipil dan terbakarnya desa Rohingya. Namun, para pejuang menyangkal hal tersebut.