Senin , 02 October 2017, 16:16 WIB

Warga Katalan dan Kecemburuan dengan Madrid

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah
EPA-EFE / Enric Fontcuberta
Seseorang memakai sepatu bot dengan warna bendera Katalunya di Barcelona,  Spanyol, (1/10).
Seseorang memakai sepatu bot dengan warna bendera Katalunya di Barcelona, Spanyol, (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Katalunya adalah salah satu daerah terkaya dan paling terindustrialisasi di Spanyol, dan juga yang paling mandiri. Mereka bangga dengan identitas dan bahasanya sendiri.

Seperti dilansir dari BBC, berdasarkan sejarah pada awal abad pertengahan, banyak orang Katalan menganggap diri mereka sebagai negara yang terpisah dari wilayah Spanyol lainnya.

Katalunya merupakan sebuah wilayah segitiga di sudut timur laut Spanyol. Katalunya dipisahkan oleh pegunungan Pyrenean dari Prancis selatan, yang memiliki hubungan historis yang dekat.

Sebagian besar penduduk di wilayah ini tinggal di Barcelona, pusat politik dan ekonomi dan tujuan wisata Eropa yang populer.

Para wisatawan juga mendatangi pantai Mediterania Costa Brava dan Costa Daurada dan Pyrenees yang sangat populer di kalangan pejalan kaki. Dengan keindahan ini maka pariwisata menjadi bagian penting dari ekonomi Katalunya.

Selain itu manufaktur seperti tekstil tradisional, yang disusul oleh industri kimia, pemrosesan makanan, serta pengerjaan logam menjadikan wilayah ini sebagai pusat kekuatan ekonomi, bersama dengan sektor jasa yang berkembang.

Katalunya pertama kali muncul sebagai entitas yang berbeda dengan kemunculan County of Barcelona hingga keistimewaan pada abad ke-11. Pada abad ke-12, county tersebut dibawa di bawah pemerintahan kerajaan yang sama dengan kerajaan Aragon yang kemudian menjadi kekuatan laut pada abad pertengahan.

Katalunya telah menjadi bagian dari Spanyol sejak awal abad ke-15, ketika Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia menikah dan mempersatukan wilayah mereka.

Awalnya mempertahankan institusinya sendiri, kawasan ini semakin terintegrasi ke dalam negara Spanyol, sampai abad ke-19 membawa identitas Katalan baru yang mengalir ke dalam sebuah kampanye untuk otonomi politik dan bahkan separatisme. Periode tersebut juga melihat upaya untuk menghidupkan kembali Katalan sebagai bahasa sastra.

Ketika Spanyol menjadi republik pada 1931, Katalunya segera diberi otonomi luas. Selama Perang Saudara Spanyol, Katalunya adalah benteng utama Republik, dan jatuhnya Barcelona ke sayap kanan Gen Francisco Franco pada 1939 menandai dimulainya berakhirnya perlawanan Spanyol terhadapnya.

Di bawah peraturan ultra-konservatif Franco, otonomi dicabut, nasionalisme Katalan ditekan dan penggunaan bahasa Katalan dibatasi.

Hal ini kemudian berakhir dengan kemunculan Spanyol yang demokratis setelah kematian Franco. Katalunya sekarang memiliki parlemen dan eksekutif sendiri - yang dikenal sebagai "Generalitat" di Katalan dengan otonomi yang luas.

Semangat nasionalis melonjak pada 2010 setelah sebuah keputusan oleh pengadilan konstitusional Spanyol yang menetapkan batasan klaim Katalan untuk kebangsaan.

Presiden wilayah tersebut saat itu, Jose Montilla, mengatakan keputusan tersebut telah menyerang martabat warga Catalan Kekhawatiran ekonomi Spanyol telah memicu antusiasme untuk kedaulatan.

Banyak Katalan percaya bahwa wilayah mereka membayar lebih banyak ke Madrid. Mereka menyalahkan sebagian besar krisis utang Spanyol pada tahun lalu akibat pemerintah pusat.