Rabu , 14 December 2016, 19:56 WIB

Sekolah di Semarang Ajak Orang Tua Mengajar

Red: Esthi Maharani
Seorang guru sedang mengajar di kelas.
Seorang guru sedang mengajar di kelas.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 15 Semarang mengajak kalangan orang tua siswa untuk mengajar murid sebagai bentuk partisipasi peran sesuai dengan Kurikulum 2013. Wakil Kepala SMA Negeri 15 Semarang Sukisroyi menjelaskan program "Orang Tua Mengajar" merupakan bentuk partisipasi kalangan orang tua untuk pendidikan sebagaimana diamanahkan Kurikulum 2013.

"Tidak hanya orang tua ikut mengajar. Bisa juga nanti ada (program) orang tua menilai. Intinya, peran orang tua diperbesar. Ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak," katanya, Rabu (14/12).

Salah satu orang tua yang mendapatkan kesempatan mengajar adalah Hadi Ibrahim Soleh, orang tua Nabila, salah satu siswa kelas XII. Di hadapan puluhan siswa kelas XII IPA, Ibrahim yang berprofesi sebagai pengusaha ekspor-impor pada kesempatan itu menceritakan pengalamannya menekuni usaha yang dimulainya dari nol.

"Saya ingin memotivasi anak-anak untuk berwirausaha setelah lulus sekolah. Kalau mereka tidak punya biaya untuk kuliah, jangan putus asa," kata pria yang pernah menjadi OB (office boy) itu.

Bahkan, kata dia, saat masih bersekolah pun siswa bisa menangkap peluang usaha kecil untuk membantu membiayai sekolahnya, seperti berjualan baju, cuci motor, hingga berjualan gorengan.

"Ya, saya juga pernah mengalaminya. Kalau mau sukses, ya, harus mau berusaha dan berjuang, dimulai dari yang kecil. Tidak ada ceritanya orang tiba-tiba langsung jadi bos besar," katanya.

Ia juga tidak sependapat dengan kebanyakan orang tua yang memaksakan cita-cita anak menjadi pilot, dokter, dan sebagainya, melainkan lebih disesuaikan dengan bakat dan potensi anak.

"Kasihan anaknya kalau ternyata nanti tidak bisa jadi dokter karena tidak punya biaya untuk kuliah, dan sebagainya. Jangan juga mendoktrin anak menjadi PNS (pegawai negeri sipil)," ungkapnya.

Yang terpenting, kata Ibrahim, penanaman semangat kepada anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri, sementara tugas orang tua untuk membimbing, termasuk jika ternyata anak ingin menjadi "entrepreneur".

"Satu yang tidak boleh dilupakan. Selalu ingat kepada Allah SWT, di manapun dan kapanpun. Jangan kemudian, begitu sudah sukses malah lupa kepada Tuhan," katanya kepada para siswa.

Sumber : antara