Rabu , 06 September 2017, 00:18 WIB

Gunung di Lokasi Uji Coba Bom Nuklir Korut Rawan Ambruk

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Budi Raharjo
reuters
Citra satelit yang menunjukkan lokasi reaktor nuklir Korea Utara (Korut) Yongbyon.
Citra satelit yang menunjukkan lokasi reaktor nuklir Korea Utara (Korut) Yongbyon.

REPUBLIKA.CO.ID,PYONGYANG -- Gunung yang berada di lokasi uji coba bom nuklir Korea Utara, Punggye-ri, berisiko runtuh dan membocorkan radiasi ke seluruh wilayah. Uji coba nuklir keenam Korea Utara yang dilakukan pada Ahad (3/9) di lokasi tersebut diperkirakan sepuluh kali lebih kuat daripada bom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.

Monitor AS mengukur gempa bekekuatan 6,3 skala Richter (SR) di dekat lokasi uji coba nuklir terakhir Korea Utara. Gempa ini terasa di beberapa bagian Cina dan Rusia, dengan gempa susulan yang mungkin disebabkan oleh runtuhan gua batu di dalam gunung.

Para pakar di Cina mengatakan gunung yang ada di situs Punggye-ri telah berada di bawah ancaman keruntuhan. Mereka meyakini, gunung tersebut berada di atas ruang bawah tanah tempat Korea Utara melakukan semua uji coba nuklir.

Wang Naiyan, mantan ketua Masyarakat Nuklir Cina dan peneliti program senjata nuklir Cina, mengatakan dia khawatir satu uji coba nuklir lagi dapat meruntuhkan atap gunung. Keruntuhan akan memicu gelombang radiasi beracun ke seluruh wilayah tersebut.

"Kami menyebutnya ''melepas atap''. Jika gunung ambruk dan lubangnya terbuka, gunung akan mengeluarkan banyak hal buruk," katanya, dikutip South China Morning Post.

Dia mengatakan Korea Utara telah kekurangan tempat uji coba nuklir. Menurutnya, lama waktu gunung itu terus bertahan akan bergantung pada di mana tepatnya ledakan tersebut dilakukan.

Jika nuklir dimasukkan ke dalam terowongan vertikal, tentu akan mengurangi kerusakan. Tapi ia menuturkan, lebih mudah membuat terowongan horisontal meski meningkatkan risiko gunung ambruk.

Menurut kantor berita Yonhap, Dinas Intelijen Nasional Seoul mengatakan uji coba nuklir terakhir ini adalah ledakan kelima yang dilakukan Korea Utara di terowongan kedua di Punggye-ri. Namun Korea Utara telah menyelesaikan pembangunan terowongan ketiga, sehingga negara tersebut bisa melakukan uji coba nuklir kapanpun. Mereka juga sedang mengerjakan terowongan keempat.

Meskipun ada kekhawatiran kemungkinan adanya kebocoran radioaktif, ilmuwan Jepang dan Cina mengatakan mereka tidak mendeteksi adanya radiasi di atmosfer. Administrasi Keselamatan Nuklir Nasional Cina mengatakan data dari stasiun pemantauan radiasi di dekat perbatasan Korea Utara tidak menunjukkan adanya dampak pada lingkungan atau penduduk Cina.

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga juga mengatakan tidak ada yang terdeteksi secara khusus dari pos pemantauan di seluruh negeri, atau dari sampel udara yang diambil oleh Angkatan Udara Jepang. Kementerian Lingkungan Cina mengatakan tingkat radiasi di dekat perbatasan Korea juga normal.